Heroisme Pocut Meurah Intan ini diabadikan oleh TJ Veltman, perwira Belanda yang dalam buku Nota Over de Geschiendenis van het Landschap Pidie. Buku ini diterbitkan oleh Tijdschrift Bataviaasch Genootschap pada tahun 1919. TV Veltman merupakan perwira Belanda yang mukanya diludahi Pocut Di Biheue ketika srikandi Aceh itu kritis. Karena keberaniannya itu pula, Veltman menjulukinya Heldhaftig, yakni perempuan yang gagah berani. Veltman melihat sendiri keberanian Pocut Di Biheue menyerang patroli pasukan Belanda seorang diri ketika hendak ditangkap.

Selain itu dalam Koloniaal Veslag  tahun 1905 diriwayatkan, Pocut Di Biheue merupakan figur dari keluarga kerajaan Aceh yang paling anti terhadap Belanda. Suatu ketika keberadaan Pocut Di Biheue juga diketahui Belanda. Ia berhadapan seorang diri dengan patroli marsose. Karena terdesak oleh belasan tentara Belanda, Pocut Di Biheue mencabut rencong dari pinggangnya, ia menyerang patroli itu seorang diri. “Kalau begini, biarkan aku mati,” teriaknya.

Pocut Di Biheue memilih menyerang patroli itu dari pada ditangkap. Melihat itu, tentara marsose terkejut. Mereka tak menyangka, seorang perempuan paruh baya berani menyerang patroli 18 tentara Belanda lengkap dengan senjata. Ia menikam ke kiri dan ke kanan sehingga mengenai tubuh beberapa marsose. Sementara tubuhnya sendiri juga ditebas dengan sabetan pedang marsose.

Pocut Di Biheue mengalami dua luka sabetan pedang di kepalanya dan dua sabetan di bahu. Salah satu urat keningnya juga putus. Ia terbaring di tanah bersimbah darah dan lumpur. Veltman kemudian membungkuk dan menjulurkan tangannya untuk membantu Pocut Di Biheue, tapi mukanya diludahi, “Jangan kau pegang aku kaphe,” kata Pocut Di Biheue  setelah meludah wajah Veltman.

Veltman dan pasukannya kemudian meniggalkan Pocut Di Biheue seorang diri. Veltman ingin agar Pocut Di Biheue yang sekarat itu meninggal bisa menghembus nafasnya di hadapan bangsanya sendiri.

Namun dugaan Veltman bahwa Pocut Di Biheue akan meninggal karena lukanya itu ternyata meleset. Beberapa hari setelah kejadian itu, Veltman bersama pasukannya kembali patroli ke kawasan Keude Biheue, antara Sigli dan Padang Tiji mendengar bahwa Pocut Di Biheue bukan saja masih hidup, tapi juga berencana untuk kembali menyerang patroli Belanda.[]