Pada 17 Juli 1880, Belanda kembali menyerang Kuta Gle. Dalam serbuan kedua ini rupanya Raja Samalang Teuku Chik Bugis minta disertakan bersama dalam pasukan Belanda, dengan tujuan untuk menyesatkan arah pasukan Belanda hingga terjebak dengan pasukan Aceh dalam jumlah yang sangat besar.
Strategi Teuku Chik Bugis lagi-lagi membuat serangan Belanda ke Kuta Gle Batee Iliek menjadi konyol. Belanda harus buru-buru mundur dan banyak sekali tentaranya yang tewas akibat dikibuli Teuku Chik Bugis. Hari itu juga Chik Bugis ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Banda Aceh. Namun begitu, benteng Kuta Gle Batee Iliek tetap berdiri kokoh dengan kekuatan pasukan Aceh yang sangat ditakuti Belanda.
Benteng Kuta Gle Batee Iliek, tak pernah direbut. Itu sebabnya Paul Van ‘T Veer menyebut Batee Iliek sebagai kampung kramat yang sangat sulit dihadapi oleh Belanda. Ia menyebutnya dengan kalimat, bidikan tembakan-tembakan marsose, ditangkis hebat para ulama yang sangat lancar membuat serangan perang terhadap Belanda, selancar mereka membaca ayat-ayat Alquran.[]

