Awalnya Wakil Presiden Muhammad Hatta juga ingin ke Aceh dengan pesawat yang dipiloti oleh Komodor Udara Suryadharma tersebut. Tapi ketika sampai di Sumatera Barat, Wakil Presiden Muhammad Hatta harus kembali ke Yogjakarta segera karena ada panggilan.
Hanya Wakil Republik Indonesia untuk India, Drs Soedarsono yang melanjutkan perjalanan ke Aceh dari Sumatera Barat. Sampai di Aceh Komodor Udara Suryadharma dan Dr Soedarsono melakuan pertemua dengan para pejabat Residen Aceh, membahas tentang kebutuhan diplomasi luar negeri dan meminta sokongan dari Residen Aceh.
Dana untuk pembelian pesawat itu merupakan sumbangan rakyat Aceh yang dikumpulkan oleh Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida). Dana itu diserahkan langsung kepada Presiden Soekarno ketika mengunjungai Aceh pada Juni 1948 sebesar 140.000 dolar Amerikan, penyerahan kedua sebesar 120.000 dolar diserahkan dalam bentuk cek oleh Residen Aceh. Cek tersebut hanya boleh diuangkan di Penang dengan surat kuasa dari Gasida.
Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) kemudian mengirim telegram ke Aceh bahwa dana tersebut telah diterima. Telegram dikirim Kepala Staf Umum AURI, Opsir Udara TH Soejono kepada Residen Aceh TT Muhammad Daodsyah. Isi telegram tersebut seperti kutipan di bawah ini.
pt residen atjeh
ketua gasida atjeh
mengutjap sjukur telah dapat mengumpulkan 120.000 str dollar lagi dengan berupa cheque surat kuasa praft jg diterima pjm presiden sebesar 140.000 dollar telah dikirim ke pusat auri salam revolusioner.
kep staf umum auri komandemen sumatera
opsir udara t h soejono.
Meski dana itu telah diserahkan kepada pemerintah, Gerakan pengumpulan dana untuk pembelian pesawat terbang terus dilakukan, bahkan Gasida cabang Aceh Timur di Langsa, pada bulan Juni menyatakan kesanggupan anggotanya untuk menyerahkan satu pesawat lagi ditambah dengan berbagai bantuan lainnya.
Pada 2 Agustus 1948, Panitia Pembelian Kapal Udara Aceh mengumumkan bahwa Gasida telah menyerahan dana sebesar 120.000 dolar Amerika kepada Residen Aceh untuk diserahkan kepada pusat AURI di Yogjakarta, sebagai tindak lanjut janji rakyat Aceh kepada Presiden Soekarno.
Kemudian, pada 23 Agustus 1948, Residen Aceh kembali menerima kawat/telegram dari Kepada Staf AURI Komandemen Sumatera TH Soejono yang menjelaskan bahwa uang untuk pembelian dua pesawat dari Aceh telah diterima oleh Pemerintah Pusat dan sudah diteruskan ke Ranggoon, Myanmar.
Dalam telegram tersebut Pemerintah Republik Indonesia berharap rakyat Aceh untuk menyediakan dana tambahan sebanyak-banyaknya untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Telegram tersebut berbunyi.
pt residen atjeh
no.3470/ksu/48/ttk telah menerima kawat dari o.u.3. wiweko terima cheque dari pt lagi 120.000 jang 140.000 diterima oleh kami waktoe pjm pres telah kami teroeskan pada ksu auri djogja komodor s surdjadarma banjak terimakasih atas bantoen pt ou3 wiweko di ranggoon beroesaha keras pesawat jang lebih mengoentoengkan minta doa penoeh harapan sedia oeang sebanjak-banjaknya oentok kemoengkinan jang akan datang soeka menerima kabar tentang ini dari pt kami djoga bitjarakan dengan ketoea kompoesat.
ksau kom sum bkt
o u t h soejono
boekittinggi 23/8/-1948
Sejarah kemudian mencatat, ketika agresi militer Belanda kedua berhasil menguasai pusat pemerintahan Republik Indonesia di Yojakarta, pesawat Seulawah RI 001 diterbangkan ke India terus ke Myanmar. Berbekal dua pesawat sumbangan rakyat Aceh tersebut didirikanlah maskapai penerbangan Indonesia Airways di Myanmar, sebagai cikal bakal maskapai penerbangan Garuda Indonesia sekarang.
Ketika usaha untuk mendirikan dan mengembangkan maskapai penerbangan Indonesia Airways dibentuk di Myanmar, pada 10 Desember 1948, tiga orang saudagar Aceh dari Gasida berangkat ke Myanmar. Ketiga mereka adalah M Djuned Js, Wahi, dan SM Alhabsji.[**]







