Kampung itu dipilih karena orang harus menyebrang sungai terlebih dahulu dengan perahu untuk menuju ke sana. Isu tersebut termakan oleh Belanda. Belanda memerintahkan Letnan RDP de Kock untuk melakukan patroli ke sana dengan kekuatan 45 orang serdadu. Sampai di tepi Sungai Sampoineit Letnan Kock memerintahkan kepada pendayung perahu untuk menyebrangkan mereka.
Sesuai dengan rencana yang telah disusun oleh Teuku Chik Di Tunong dan Cut Meutia, begitu sampai di tengah sungai, si pendayung segera menenggelamkan perahunya. Karena begitu cepat dan tak terduga, pasukan Belanda yang ada di perahu itu menjadi panik. Bersamaan dengan itu, pasukan Teuku Chik Di Tunong yang berada di seberang sungai melepaskan tembakan ke arah Kock dan pasukannya yang 42 pucuk senapan mereka berhasil dirampas oleh pasukan Teuku Chik Di Tunong.
Tentang peristiwa itu juga ditulis oleh MH Du Croo dalam “General Swart Pacificator van Atjeh” Masticht: Uitgaven N.V. Leiter-Nypels, 1943. Peristiwa itu sangat memukul pemerintah Belanda, sebaliknya sangat membesarkan semangat Teuku Chik Di Tunong dan Cut Meutia. Setelah peristiwa itu, Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh, Van Heuttsz memperbesar pasukannya dengan dua batalion infantri dan enam brigade marsose di bawah pimpinan Kapten H. N. A Swart. Pasukan ini digunakan untuk melakukan operasi besar-besaran di daerah Pasai dan Keureutoe.[**]

