BANDA ACEH – Aceh memiliki keberagaman tari yang luar biasa, bernama Seudati, Saman, Rapa,i Geleng, Laweut, Rateb Meuseukat, Ranup Lampuan dan puluhan lainnya. Tak serta merta tarian tersebut ada, tentu lahir dari para indatu (nenek moyang) yang merupakan bentuk dari ekspresi jiwa yang memasukkan filosofis makna dalam setiap hentakan, pukulan, bahkan alunan syair. Kodratnya budaya jika tidak dipeduli akan mati meninggalkan kita, namun perlu kita pertanyakan siapa yang mau melestarikannya?
Tarian Aceh yang begitu mendunia kini semakin banyak para pegiat untuk melestarikannya, itu di Aceh, tapi bagaimana budaya Aceh dikenal di luar daerah. Tak peduli fasilitasnya ada atau tidak, mereka para pemuda yang dalam darahnya mengalir jiwa-jiwa seni tetap melestarikannya, Iya, mereka yang mengatasnamakan SeuRAYA “Seuniman Rapa-i Yogyakarta”.
SeuRAYA adalah kumpulan para pegiat seni yang berasal dari Aceh yang kini berada di Yogyakarta tentu dengan kesibukkannya sebagai mahasiswa namun menyempatkan diri untuk tetap menonjolkan identitas Aceh di lingkungan yang begitu majemuk. Anggota SeuRAYA juga tersebar diberbagai sanggar Aceh lainnya yang secara umum anggotanya bukan orang Aceh, tak lain dan tak bukan adalah untuk menjadi pencerah bagi tiap-tiap sanggar yang ada di sana. Namun tidak sia-sia, berkat mereka, tarian Aceh yang berada di daerah istimewa tersebut bisa pergi ke berbagai negara.
Sanggar ini lahir pada 26 Desember 2016 bertepatan dengan memperingati Tsunami Aceh, bertempat di Balee Gadeng Yogyakarta, karena kesamaan cara pandang untuk menghadirkan identitas Aceh ditengah masyarakat Jawa, dengan serba keterbatasan SeuRAYA pun terbentuk.
SeuRAYA memiliki beberapa tarian, salah satu yang menjadi pamungkas adalah Rapa,i Canang, yang juga terinspirasi dari Bur,am, rapai,i geleng juga merupakan andalan bagi SeuRAYA, kini sedang mencoba memunculkan Seudati dan beberapa tarian lainnya.
Tarian Aceh yang kini semakin berkembang di Tanah Sultan tersebut tidak hanya pada SeuRAYA, melainkan banyak sanggar lain yang ikut andil dalam melestarikan tarian Endatu tersebut, baik dari komutas Aceh tingkat Kabupaten, berbagai Asrama Aceh dan bahkan kampus-kampus yang ada di Yogyakarta.
Sanggar yang berada di luar Aceh tanpa kepedulian pemerintah Aceh pun sejauh ini masih tetap berkarya, tapi entah di tahun-tahun ke depannya,!!
“Nyo Mate Aneuk Beu Meupat Jirat, Nyo Gadoeh Adat Beu Meupat Mita”
Anggota SeuRaya:
Al Farray (Kuta Blang), Rizki Gen (Banda Aceh), Abee (Banda Aceh), Martunis (Aceh Besar), Sijek (Aceh Besar), Sayuti (Abdya), Dani (Aceh Besar), Anas (Aceh Besar), Fahrol (Banda Aceh), Heri (Nagan Raya), Arif (Aceh Utara), Khalis (Lhokseumawe), Ahmed (Banda Aceh), Dimas (Nagan Raya).[]
Penulis: Teuku Rafsanjani



