———–“Hampir saja seorang guru menjadi Nabi” (Ahli Hikmah)—————

Zaman terus berubah dan Kemajuan sepertinya tak pernah bisa kita kejar. Dalam setiap menit akan ada penemuan baru. Apa yang dulu dianggap mustahil, semua tampak nyata hari ini.

Orang banyak menganggap bahwa kehidupan kita saat ini tampak lebih baik. Ya, mungkin lebih baik dari capaian materiil. Tapi menyisakan banyak ketimpangan. Pergeseran nilai menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Pergeseran itu juga berimbas pada hubungan antarmanusia, antaranggota masyarakat dan lingkungannya.

Diantara siklus zaman yang terus berubah inilah para guru berdiri dan berusaha beradaptasi. Termasuk beradaptasi dengan sistem formal pendidikan kita. Baik itu kebijakan, payung hukum dan kurikulum. 

Diantara yang pokok adalah membawa peserta didik untuk dapat memilki daya saing global, penuh karakter dan dipenuhi semangat kreatif. Semua usaha pendidikan dikerahkan untuk, setidaknya menuju Indonesia Emas 2035-2045 nanti.

Beragam pendekatan belajar telah diuji-cobakan, termasuk pendekatan saintifik yang diberlakukan sekarang. Pendekatan ini sebagai upaya memfasilitasi siswa dalam mencapai kinerja belajarnya secara konstruktif, mandiri dan bertahap. Disamping membiasakan mereka pada kerja ilmiah, walau hasilnya tidak secepat  bertanam jagung atau tomat. Perlu waktu panjang (sistem yang simultan), sinergi dan nilai nilai spiritual yang terasah.

Untuk menghadapi semua kemajuan dan kesibukan zaman yang semakin membuat kita terasing, tugas guru akan tetap relevan sebagai sosok yang menginspirasi. 

Bila kemajuan bisa mencapai apapun, termasuk semua layanan akademik, belajar online, ensiklopedi dan  merancang program belajar berbasis digital. Bahkan kemajuan juga bisa meniadakan ruang kelas sama sekali.

Guru sebagai Manusia seutuhnya

 Dalam kondisi ini, ada satu peran guru yang akan selalu menetap dan tak tergantikan. Yaitu sebagai sosok manusia seutuhnya dengan dinamika yang beragam, orisinal dan penuh daya kreatif yang murni, daya kreatif yang melampaui kecerdasan buatan.

Dengan pendekatan ini, seorang guru selalu dapat membangun hubungan yang manusiawi dengan para siswanya. Lebih mengedepankan pendekatan personal (karena gempuran menjadi individualis sangat kuat) dan mengutamakan  terbentuknya nilai religius ( rasa bertuhan) dalam setiap interaksi serta mengaitkan mata pelajaran dengan rasa ketuhanan tadi.

Terwujudnya pola hubungan di atas tadi akan dapat mengimbangi laju zaman yang terus merona dan semakin cepat. Wajah zaman yang  cenderung menjadikan manusia lupa pada dirinya, lupa pada kemanusiaannya dan lupa pada Dia Yang Telah Menundukkan Semua ini untuk kita. Seperti kata ahli hikmah, hampir saja seorang guru menjadi Nabi.Inilah inti peran yang tak tergantikan.

Oleh: Taufik Sentana
Praktisi Pendidikan Islam. Sedang mengembangkan  Program Seminar, konsultasi dan Pengembangan SDM.