Jumat, Juli 19, 2024

Lebih 170 Bangunan Rusak...

ACEH UTARA - Sebanyak 173 bangunan dilaporkan rusak akibat diterjang badai (hujan deras...

Inilah Struktur Lengkap Kepengurusan...

BANDA ACEH - Ketua Umum Majelis Syuriah Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh...

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...
BerandaAdakah Kata dari...

Adakah Kata dari Bahasa India dalam Khazanah Bahasa Inggris?

Tahukah Anda, bahasa Inggris, walau adalah bahasa terwahid tingkat pemakaiannya di dunia ini, bukanlah bahasa terlengkap dalam kepemilikan kosakata. Itu berarti, kosakata yang digunakan dalam bahasa ini diserap dari bahasa lain. Sebut saja misalnya soldier. Kata ini kita rasakan seolah asli milik bahasa Inggris, padahal dari bahasa Prancis.

Tak hanya dari bahasa Prancis, bahasa Inggris juga menyerap kata dari bahasa India, misalnya loot (rampasan), nirvana (nirwana), shampoo (sampo) dan shawl (syal);bungalowjungle (hutan) dan thug (penjahat).

Apa akar dan bagaimana perjalanan kata-kata India ini? Bagaimana dan kapan hal ini bergerak dan bagaimana perjalanan mereka masuk ke bahasa Inggris dan kemudian ke dalam kamus legendaris Oxford English Dictionary?

Bagaimana pula kata-kata ini menceritakan hubungan Inggris dan India?

Jauh sebelum British Raj–sebelum East India Company menguasai wilayah pertamanya di anak benua India pada 1615–kata-kata Asia Selatan dari bahasa-bahasa seperti Hindi, Urdu, Malayalam , dan Tamil digunakan oleh orang asing.

Satu buku penting mencatat etimologi kata dan frasa Inggris-India. Dihimpun oleh dua pemerhati India, Henry Yule dan Arthur C Burnell, Hobson-Jobson: The Definitive Glossary of British India yang diterbitkan pada 1886.

Penyair Daljit Nagra menggambarkannya sebagai “bukanlah sebuah kamus yang rapi tetapi lebih sebagai kenangan tentang India masa penjajahan. Lebih mirip catatan kata-kata orang Inggris eksentrik.”

Editor edisi kontemporernya–yang baru saja diterbitkan dalam bentuk biasa, bukan dengan sampul tebal–menjelaskan kata-kata yang masuk sebelum penjajahan Inggris.

Ginger (jahe), pepper (merica) dan indigo (nila) masuk ke dalam bahasa Inggris lewat jalur kuno: kata-kata ini mewakili perdagangan Yunani dan Romawi kuno dengan India dan masuk melalui bahasa Yunani dan Latin ke dalam bahasa Inggris,” kata Kate Teltscher.

Ginger berasal dari Malayalam di Kerala, melalui bahasa Yunani dan Latin ke dalam Prancis Lama dan Inggris Lama, kemudian kata dan tanaman tersebut menjadi komoditi dunia. Pada abad ke-15, diperkenalkan ke Karibia dan Afrika dan kemudian berkembang. Jadi kata, tanaman dan rempah ini menyebar di dunia.”

Sementara perdagangan dunia menyebar lewat penjajahan Eropa terhadap Hindia Timur, gelombang kata-kata India memasuki bahasa Inggris terus meningkat.

Kebanyakan melalui Portugal. “Penguasaan Portugal atas Goa bermula pada abad ke-16, dan mango (mangga) dan curry (kari) masuk ke kita lewat Portugis. Mangodimulai dengan 'mangai' dalam bahasa Malayalam dan Tamil, masuk ke Bahasa Portugis menjadi ‘manga’ dan ke dalam bahasa Inggris dengan diakhiri ‘o’,” katanya.

Tetapi pergerakan kata-kata Asia Selatan menjadi bahasa Inggris tidak selalu mengikuti perlinbtasan Timur ke Barat, seperti digarisbawahi Teltscher dengan kata ‘ayah’, kata yang selama ini saya pahami mengacu kepada pengasuh India atau PRT, sebagaimana keluarga luas saya di New Delhi menggunakannya saat ini.

“Ayah” asalnya adalah kata Portugis, yang berarti pengasuh anak atau perawat, dan digunakan dalam cara ini oleh orang Portugis di India dan diserap ke dalam bahasa-bahasa India, dan kemudian melalui India masuk ke Bahasa Inggris.

Daftar kata-kata Hobson-Jobson menjelaskan sebuah perjalanan panjang kata chili(cabai), yang dicatat sebagai kata Inggris-India untuk merica merah”.

Menurut Yule and Burnell, “Tidak ada keraguan nama itu diambil dari Chile di Amerika Selatan, jadi tanaman itu dibawa ke kepulauan Hindia dan kemudian ke India.”

Indera Perasa dan Kehalusan Perasaan

Kata-kata Hindi, Urdu, Tamil, Malayalam, Portugis dan Inggris yang beredar di dunia pada abad ke-16 dan 17, mengungkapkan bagaimana bahasa berubah sepanjang waktu sementara kebudayaan tercipta dan berubah, bagaimana manusia menyesuaikan diri ke keadaan di sekitarnya.

Hal ini diwakili olah tiga kata – shawl (syal), cashmere (kain wol halus) dan patchouli(nilam), yang melakukan perjalanan dari India ke Inggris pada abad ke-18.

Cashmere kita hubungkan dengan wol dan asalnya dari Kashmir dan wol yang dihasilkan domba Kashmir. Hal ini sangat terkait dengan syal, kata yang berasal dari Persia dan bergerak ke India lewat Urdu dan Hindi, kemudian ke dalam bahasa Inggris,” jelas Teltscher.

Shawl masuk ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-18 dan 19 karena menjadi bahan mewah yang diidamkan wanita kelas atas.”

“Jika Anda memiliki saudara laki-laki yang bekerja untuk East India Company, Anda pasti ingin dia mengirim syal yang dibordir indah. Patchouli terkait dengan shawlkarena parfum dipakai untuk mengatasi serangga, dan akibatnya parfum yang keras baunya ini menjadi populer di Inggris,” tambahnya.

Patchouli tidak lama kemudian kehilangan pamornya.

“Begitu abad ke-19 ditinggalkan, patchouli menjadi dikaitkan dengan wanita dan PSK Prancis yang tidak bermoral. Sehingga patchouli berubah dari barang kelompok kerajaan menjadi terlupakan, dan kemudian di tahun 1960-an dikaitkan dengan gerakan hippie,” kata Teltscher.

Iklim yang Tepat

Penulis yang lahir di London dan tinggal di Bristol, Nikesh Shukla, merasa sumbangan penting India pada bahasa Inggris sehari-hari mewakili sifat menguntungkan kerajaan Inggris.

“Tidak dapat dihindarkan lewat penjajahan Inggris menyerap kebudayaan lokal dan menciptakan pengaruh yang lama karena penjajahan berlangsung dua arah. Lihat saja hal-hal dalam kebudayaan Inggris yang berasal dari Persemakmuran yang Inggris anggap miliknya, seperti teh misalnya. Dan bahasa adalah bagian dari itu,” katanya.

Shukla, yang novel terbarunya Meatspace bercerita tentang media sosial dan telepon genggam, meyakini kerajaan Inggris membentuk kembali bahasa Inggris sama seperti yang terjadi saat ini dengan teknologi.

“Salah satu cara melihatnya adalah kata-kata India 'menggangggu' bahasa Inggris karena kata-kata tersebut tidak dimiliki. Contoh saja veranda (beranda). Iklim di sini dingin sehingga Anda tidak akan memiliki veranda, atau pyjamas (piyama), celana katun longgar, yang hanya cocok di iklim panas,” katanya.

“Sekarang, kata-kata seperti wifi, internet, Google, email dan selfie mendunia, tidak ada kata-kata yang dapat mewakilinya, jadi kata-kata ini menyusupi bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lain dunia,” jelas Shukla.

“Media sosial juga mengubah cara kita berbicara, arti kata seperti 'like' sama sekali berubah, di samping 'following' atau 'lol'. Pengganggu baru bahasa Inggris adalah teknologi, tetapi saya suka bagaimana kerajaan menjadi pengganggu besar bahasa Inggris karena membuat Inggris terbuka terhadap begitu banyak kebudayaan dan bahasa,” tambahnya.

Kata India-Inggris yang paling disukai Shukla, Blighty, menunjukkan bagaiman bahasa terus berubah.

“Ini biasanya dipakai warga Inggris di luar negeri yang mengacu ke Inggris dan ‘Good ol’ Blighty’. Asalnya dari kata Urdu yang berarti asing atau orang Eropa, ‘vilayati’. Jadi telah diubah dan dipakai untuk menghormati Inggris dan akhirnya menjadi bagian dari bahasa Inggris,” katanya.

Pengaruh India terhadap bahasa Inggris mewakili proses bagaimana bahasa selalu berubah, dan menggarisbawahi pentingnya bekas jajahan dalam membentuk dunia modern.

“Sangat menarik mengkaji kata-kata,” kata Teltscher. “Hal ini ini mengungkap irama dan jalur perjalanan yang tidak terduga dan hubungan yang tidak mungkin dan menarik.”[]

(Sumber: BBC Indonesia via nationalgeographic.co.id)

Baca juga: