BANDA ACEH – Presiden Wadah Percerdasan Umat Malaysia (wadah), Ahmad Azam Abdul Rahman, mengatakan, Fetullah Gulen merupakan seorang pengikut Barat (zionis) yang dijadikan alat Barat untuk mengganggu Turki yang mulai membangkitkan semangat persatuan Islam.

Hal itu disampaikan Ahmad Azam pada pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu, malam 19 Oktober 2016, Pukul 20.30 WIB.

“Sekira dua puluh tahun lalu, saya mengikuti gerakan Gulen, saat itu saya pikir betul gerakan yang membangkitkan dunia Islam. Akan tetapi setelah Gulen pindah ke Amerika, semua berubah. Gulen mulai berpikir bisnis dan punya agenda membuat negara paralel dan mengahalangi semua kebijakan yang mendukung Islam. Ia juga mencuri karya Said Nursi seolah itu pikirannya, itu menipu ummat. Sekolah-sekolahnya itu untuk kepentingan Barat mencegah bangkit Islam, makanya ada di banyak negara,” kata Ahmad Azam.

Aktivis senior dari Malaysia ini mengatakan, pimpinan Feto (Fetullah Terorist Organization), Gulen, yang dinyatakan otak kudeta 15 Juli 2016 di Turki oleh pemerintah disebut ulama oleh media barat untuk mengacaukan pendapat umat Islam.

“Media barat itu mempublikasikan berita satu sisi dan mendiamkan sisi lainnya. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah membangkitkan semangat umat Islam dunia dalam demokrasi. Erdogan berhasil membangun persatuan dunia Islam karena ia membangun ekonomi sebelum yang lain,” kata Azam.

Penulis buku “Erdogan Bukan Pejuang Islam?” ini mengatakan, Erdogan membawa misi kebebasan Islam, misi perdamaian, seorang pemimpin yang ummatik. Erdogan menggunakan nilai yang universal dalam memimpin. Ia menghindari label Islamik tapi memakai nama demokrasi untuk membangkitkan Islam. Itu berhasil baik di Turki.

“Kudeta di Turki gagal karena bantuan Allah dan doa orang-orang yang dibantu oleh Turki,” kata Ahmad Azam yang mengenal Erdogan secara langsung sejak 1996.[]