ISTANBUL – Aktivis perdamaian antarbangsa, Nur Djuli, dari Aceh mengisi materi di Conference Rejuvenating Peace Processes: Colombia, Philippines, Indonesia (Konferensi Meremajakan Proses Perdamaian Colombia, Filipina, Indonesia (Aceh), di Istanbul 14-15 Oktober 2016.
“Hari ini meeting terakhir (presentasi delegasi Kolombia dan sorenya Lessons Learned untuk Turki,” kata Nur Djuli kepada portalsatu.com, melalui pesan elektronik, dari Istanbul, Sabtu 15 Oktober 2016.
Dalam presentasinya, Nur Djuli mengatakan, perang pasti membawa kehancuran dan menjadi pilihan terakhir yang terpaksa diambil ketika tidak ada jalan lain. Sementara perdamaian memberi harapan untuk membangun kembali.
“Harapan akan jadi khayalan kalau orang terus berpikir negatif dan menganggap perang akan membawa penyelesaian,” kata aktivis senior bidang perdamaian dunia dan mantan juru runding MoU Helsinki ini.
Ia mengisahkan, Aceh sudah berperang dari 1873 dengan Belanda. Kemudian dengan Jepang dan akhirnya dengan RI. Wilayah Aceh yang meliputi sebagian besar pulau Sumatra dan semenanjung tanah Melayu tinggal sedikit di ujung utara Pulau Sumatra.
“Penduduk Aceh dari lebih 20 juta tinggal 2.5 juta ditahun 1950-an (Indonesia 75 juta), sekarang Indonesia 230 juta, 3 kali lipat, Aceh 5 juta, hanya dua kali lipat. Pada dasarnya ini yang saya sampaikan di Istanbul: Count the cost of war. Menang jadi arang, kalah jadi abu, adalah pepatah Melayu lama yang masih relevan sekarang, bukan saja di Aceh, tapi di mana saja di dunia. Turki akan sangat maju kembali, setelah hancurnya empire Turki Usmani, kalaulah biaya berperang dengan minoritas Kurdi bisa diakhiri,” katanya.[]


