Senin, Juni 24, 2024

Atlet KONI Aceh Rebut...

BANDA ACEH - Prestasi mengesankan ditoreh atlet binaan KONI Aceh yang dipersiapkan untuk...

Realisasi Pendapatan Asli Aceh...

BANDA ACEH - Realisasi Pendapatan Asli Aceh (PAA) tahun 2019-2023 melampaui target. Akan...

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...

Hujan dan Angin Kencang,...

ACEH UTARA - Dua rumah di Dusun Dua Lampoh U, Keude Pantonlabu, Kecamatan...
BerandaAkronim dan Singkatan,...

Akronim dan Singkatan, Samakah?

Akronim dan singkatan sering dipakai tumpang tindih. Ada sebagian orang menganggap kedua kata itu sama sehingga dapat digunakan secara bergantian dalam kalimat. Kapolda, Polda, Akbid, misalnya, sering disebut singkatan dan terkadang juga disebut sebagai akronim.

Secara kebahasaan, sebenarnya penyamaan keduanya tidak tepat dilakukan sebab ada perbedaan ciri-ciri dan syarat suatu bentuk disebut singkatan atau akronim. Mari kita lihat bagaimana ciri-ciri dan syarat itu?

Singkatan dan akronim meski sama-sama pemendekan, berbeda dalam proses pembentukannya. Singkatan dibentuk dengan cara mengambil huruf awal setiap dan tidak dapat dibaca seperti kata. Lain lagi dengan akronim. Pembentukannya boleh dengan cara mengambil setiap huruf awal atau huruf awal dengan huruf tengah pada suatu kata. Yang paling penting adalah dapat dibaca seperti kata.

Maka, Kapolda, Polda, dan Akbid adalah akronim karena dapat dibaca seperti kata. Begitu pula dengan Akabri, Depag, Disbudpar, Persiraja. Semua dapat dibaca seperti kata. Namun, KTP (kartu tanda penduduk), KPA (Komite Peralihan Aceh), TNI (Tentara Nasional Indonesia) adalah singkatan karena dibaca per huruf, bukan dibaca seperti kata.

Lalu, secara ejaan, bagaimana penulisan singkatan dan akronim yang benar?

Dalam tradisi tulisan, singkatan dan akronim ditulis dengan aturan tersendiri. Bila ketika disingkat atau diakronimkan huruf yang diambil adalah huruf-huruf awal, penulisannya haruslah dengan huruf kapital. Penyingkatan Sarjana Pendidikan, umpamanya, haruslah S.Pd. Huruf S dan P ditulis kapital karena huruf awal pada kata Sarjana dan Pendidikan. Mengapa huruf d ditulis kecil? Ini karena huruf tersebut letaknya bukan di awal kata. Bandingkan dengan S.H. (Sarjana Hukum) yang ditulis semuanya kapital. Penulisan seperti itu berlaku karena S dan H huruf awal pada kata sarjana dan hukum

Sebaliknya, bila yang disingkat atau diakronimkan merupakan gabungan huruf awal dan suku kata, penulisannya cukup menggunakan huruf kapital di awal saja, sisanya semua huruf kecil, misalnya Depag (Departemen Agama) atau Kapolda (Kepala Polisi Daerah).[]

Baca juga: