Aku adalah masa lalu dan harapan yang datang dari jauh. Harapan itu singgah di taman dunia sambil menata jalan keabadian. Semua cinta bendawi dan hasrat ragawi akan binasa. Unsur abadi hanya diserap oleh jiwa dengan cawan pengabdian. Dan waktu akan menggulung semuanya, kecuali ketataan zahir dan batin. Ia akan tampil kembali dalam lembar lembar  terhampar yang berat di Mizan.

Karena aku musafir maka aku sibuk dengan debu debu. Bahkan sebagian masa lalu itu adalah debu debu semata. Debu debu yang menempel dalam tubuh dan jiwaku. Debu kasar dan halus, debu takut dan harap, debu debu yang bahkan gatal dan busuk.

Kini biarlah debu debu itu menjadi suci kembali dalam hening dan syahdu Ramadan.Menjadi harapan yang tidak sia sia.[]

 

Taufik Sentana
Peminat Sastra Sufistik
dalam “Rindu rindu yang Berguguran”