LHOKSEUMAWE – Pengamat Terorisme, Al-Chaidar, menduga penangkapan sejumlah terduga teroris jaringan Majalengka adalah bentuk pengalihan isu yang dilakukan pemerintah. Menurutnya tidak tertutup kemungkinan adanya unsur kesengajaan mengaitkan penangkapan terduga teroris dengan rencana aksi 2 Desember.
Bisa jadi penangkapan para terduga teroris Majalengka itu sebagai pengalihan isu, makanya sengaja dikait-kaitkan dengan rencana aksi 2 Desember nanti, kata Al-Chaidar kepada portalsatu.com, Minggu, 27 November 2016.
Namun, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh tersebut mengaku tidak tertarik dengan persoalan pengalihan isu. Dia cenderung tertarik dengan perkembangan kelompok Cikijing, yang mampu membuat bom daya ledak dahsyat serta memiliki bahan kimia nitrogliserin.
Di Cikijing, anggota kelompok Salif Firdaus tidak hanya dilatih menggunakan senjata api. Namun, juga diajarkan merakit bom. Dia mencontohkan seperti Bahraini dan RPW, keduanya mampu merakit bom berdaya ledak tinggi. Kemudian di markas Cikijing ada juga laboratorium besar dan canggih untuk penelitian kimia.
Sebaiknya jangan dikait-kaitkan, dalam kasus ini yang harus jadi perhatian kita adalah mengapa kelompok di pedalaman Banjaran itu bisa memiliki unsur kimia cair Nitrogliserin. Itu daya ledaknya luar biasa, bahkan tiga kali lipat lebih dahsyat dari Bom Bali II, katanya.
Untuk diketahui, Nitrogliserin juga dikenal sebagai trinitrogliserin, merupakan larutan yang mudah meledak, berminyak, tak berwarna dan berat. Bahan ini ditemukan tahun 1847 untuk bahan aktif pada dinamit, yang digunakan untuk kebutuhan industri pertambangan. Namun, sejak tahun 1880-an, nitrogliserin mulai digunakan oleh militer.
Zat aktif itu juga bahan utama dalam mesiu, digunakan untuk senjata api laras panjang dan pendek. Dalam sejarah perang dunia, Nitrogliserin diproduksi dalam jumlah besar selama Perang Dunia I dan II sebagai propelan untuk militer dan pekerjaan rekayasa militer.
Selama PD I, pabrik propelan terbesar berada di Britania Raya yakni, HM Factory, Gretna, yang memproduksi sekitar 812 ton Cordite RDB per pekan. Jumlah ini memerlukan sekurangnya 336 ton nitrogliserin per pekan.[]
Laporan: Sirajul Munir



