Kamis, Juli 25, 2024

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...

Hendry Ch Bangun Tanggapi...

JAKARTA - Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Hendry Ch Bangun menegaskan,...

Puluhan Personel Polres Aceh...

LHOKSUKON - Polres Aceh Utara melakukan tes narkoba melalui metode tes urine menggunakan...
BerandaNewsAli bin Abi...

Ali bin Abi Thalib, Pendeta Yahudi, dan Pertanyaan Matematika Tersulit

Aku adalah pintunya ilmu, dan Ali adalah kuncinya“. Demikian kata Rasulullah kepada Ali bin Thalib dalam sebuah hadis.

Ali bin Abi Thalib memang memiliki banyak keistimewaan, selain sebagai keponakan Rasulullah. Ia adalah pemeluk Islam pertama dari generasi pemuda. Ketika dewasa, ia menjadi menantu Rasulullah, usai menikah dengan Fatimah az-Zahra. Di samping itu semua, kecerdasan adalah keistimewaan lain yang dimiliki Ali bin Abi Thalib. Bahkan, Rasulullah pun mengakui kecerdasan Ali bin Abi Thalib dan menjulukinya sebagai kuncinya ilmu.

Oleh sebab itu, banyak orang yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib dengan berbagai macam motif. Ada yang ingin sekadar mengetes, ada ingin menjatuhkan, tapi ada pula ingin benar-benar mendapatkan jawaban atas persoalan yang dihadapi. 

Cerita tentang kecerdasan Ali bin Abi Thalib banyak beredar. Salah satunya tentang seseorang yang masuk Islam setelah bertanya tentang matematika. Kisah tersebut terekam dalam buku Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam. Dikisahkan, suatu ketika seorang pendeta Yahudi–sebelum meninggal dunia–berpesan kepada muridnya agar mencari dan menemui orang yang mendapatkan gelar ‘kuncinya ilmu’ (Ali bin Abi Thalib).  

Ketika bertemu dengan ‘kuncinya ilmu’, sang murid diminta untuk mengajukan satu pertanyaan matematika, sebuah pertanyaan yang sampai pada saat itu tak seorang pun dapat menjawabnya.

“Bilangan mana yang habis dibagi satu sampai sepuluh?” kata seorang pendeta Yahudi kepada muridnya agar ditanyakan kepada sang ‘kuncinya ilmu.’

Tidak sampai di situ, pendeta Yahudi tersebut juga memberikan wejangan yang aneh dan nyeleneh. Jika sang ‘kuncinya ilmu’ bisa menjawab pertanyaan itu, maka sang murid disuruh untuk mengikutinya. Sebaliknya, jika sang ‘kuncinya ilmu’ tidak dapat menjawabnya maka sang murid harus meninggalkannya dan terus mencari orang yang bisa menjawabnya.

Hari demi hari berlalu. Akhirnya sang murid dari pendeta Yahudi itu berhasil bertemu dengan Ali bin Abi Thalib. Segera saja ia menanyakan pertanyaan tersulit tersebut. Mendengar pertanyaan itu, Ali bin Abi Thalib langsung menjawab tanpa hambatan yang berarti. 

Ali bin Abi Thalib lalu menyuruh murid pendeta Yahudi itu untuk mengalikan jumlah hari dalam seminggu dengan jumlah hari dalam sebulan dengan jumlah bulan dalam setahun; yakni 7 x 30 x 12. Setelah dihitung, hasilnya adalah 2520. Itulah jawaban Ali bin Thalib atas pertanyaan “Bilangan mana yang yang habis dibagi satu sampai sepuluh?” yang diajukan murid pendeta Yahudi tersebut.

Murid pendeta Yahudi itu terkejut dengan jawaban Ali bin Abi Thalib. Setelah dihitung beberapa kali, ternyata 2520 adalah bilangan terkecil yang bisa dibagi habis bilangan satu sampai sepuluh. Sesuai pesan sang guru, akhirnya murid pendeta Yahudi itu mengikuti Ali bin Abi Thalib, masuk Islam. 

(A Muchlishon Rochmat)[]Sumber: nu.or.id

Baca juga: