BANDA ACEH – Juru bicara Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) Mashari Wahid menanggapi keberangkatan para petinggi lembaga mahasiswa bersama PLN Aceh ke Medan, Sumatera Utara.
Mashari mengatakan, keberangkatan tersebut merupakan sebuah kemunduran dalam gerakan mahasiswa. Pasalnya, ditengah carut marutnya pelayanan PLN di Aceh, para petinggi lembaga mahasiswa tersebut malah memilih 'berdamai' dan menerima tawaran tersebut dengan dalih meninjau langsung generator pembangkit listrik di Medan.
“Sebagian kawan-kawan yang berangkat sibuk mengklarifikasi hal tersebut. Bahkan ada informasi hari ini mereka menggelar jumpa pers untuk mengklaifikasi issu tersebut. Ini kan jelas sekali mereka merasa bersalah. Kalau mereka merasa tidak bersalah, kenapa harus kebakaran jenggot seperti itu,” ungkapnya.
“Kami juga mendapatkan informasi bahwa rombongan juga mengunjungi beberapa objek wisata seperti Berastagi. Bahkan kami punya bukti mereka sedang asik berkuda. Di tengah situasi krisis energi seperti ini, hal tersebut sangat melukai hati masyarakat. Ini kan namanya dalam gelap main kuda-kudaan,” tutur aktivis mahasiswa asal Aceh Jaya tersebut.
Sementara itu, koordinator Front Revolusioner Muda Aceh (FoRMA) Iqbal Faraby menyampaikan kekecewaannya terhadap para pejabat mahasiswa yang dianggap telah mengkhianati nilai-nilai idealisme yang seharusnya dipegang erat oleh mahasiswa.
“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang kita miliki sebagai mahasiswa. Kami tidak masalah jika ada orang yang menari di atas kakinya sendiri. Namun jika mereka menari di atas penderitaan rakyat, maka kami mengutuk keras perbuatan tersebut,” katanya, dalam siaran pers.
Menurutnya, pasca aksi gembok pagar yang dilakukan mahasiswa, banyak masyarakat yang menaruh harapan kepada gerakan mahasiswa. Namun semua itu berbalik menjadi cemoohan setelah mereka menerima tawaran jalan-jalan dari humas PLN tersebut.
“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada humas PLN yang telah mengajak kawan-kawan mahasiswa main kuda-kudaan ke Medan. Dan kepada kawan-kawan mahasiswa, mulai sekarang kita sebaiknya berhenti melabeli diri sebagai pejuang rakyat karena sekarang mahasiswa telah melacurkan diri kepada korporat,” kata ketua demisioner BEM FH Unmuha tersebut.[]



