Mendidik anak merupakan tanggung jawab bagi orang tuanya, mendidik dengan cara-cara yang baik dan sabar agar mengenal dan mencintai Allah, memang bukan perkara yang mudah. Setidaknya orang tua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak, yang sudah menjadi orang tua tentu senantiasa berharap, berdoa dan berusaha semaksimal mungkin agar anaknya menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, anak- anak yang bermanfaat. 

Suami harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi suami yang shalih, berpengetahuan agama, serta mengamalkannya apa-apa yang di perintahkan dan yang dilarang oleh Allah SWT. Kemudian, suami wajib mengajak dan membimbing sang istri untuk berbuat demikian juga, karna ini adalah dasar dalam mendidik anak sehingga si anak akan meneladani orang tuanya karna orang tua adalah guru yang paling berperan dalam kehidupannya.

Berdasarkan sabda Rasullullah yang artinya:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya, dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.” (HR.Bukhari).

Di zaman teknologi digital ini menjadi sebuah tantangan bagi orang tua dalam mendidik anak, di mana hampir seluruh penduduk dunia tidak boleh jauh dengan dunia kaca, alias seperti kebutuhan utama, termasuk anak-anak sudah memanjakan dirinya dengan handphone dan laptop. Memang kehadiran teknologi digital tersebut ada nilai positif untuk manusia, tapi kita semua tata bahwa di sana juga sangat banyak dampak negatif apabila tidak dalam pengawasan dan edukasi menggunakan gadgetnya. Salah satunya yang selama ini sangat meresahkan bagi orang tua dengan kehadiran game online. Ini tentunya permainan yang lebih mengasyikkan bagi anak-anak, kalau sampai ada anak yang kecanduan permainan game online ini jelas sangat berbahaya karna akan mengganggu jadwal istirahatnya, ini bisa menyebabkan menurunnya prestasi dan malas belajar.

Berbahagialah orang tua yang berhasil mendidik anaknya berakhlak mulia menjadi anak yang shaleh yang selalu senantiasa membantu orang tuanya, mendoakan orang tuanya, membahagiakan mereka dan menjaga nama baik orang tuanya. Kebahagiaan lainnya yang akan diperoleh oleh orang tua adalah ketika orang tua sudah meninggal maka aliran pahala yang dikirim oleh anaknya melalui doa dan amalannya. Sudah.

Rasulullah SAW bersabda:

Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali 3 yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan nya (HR. Muslim).

Dalam hadist tersebut di atas jelas sekali bahwa anak yang shaleh yang mendoakan kita merupakan salah satu investasi orang tua untuk yaumil mahsyar nanti.

Pengalaman saya pernah bertemu dengan seorang pegawai Pertamina Bapak Danie Mustafa posisi manager di PHE (Pertaminan Hule energy) Lhokseumawe. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapat dari beliau, terutama keberhasilannya dalam memimpin perusahaan.

Namun ada sebuah pesan moral yang saya dapat darinya ketika saya menanyakan tentang pendidikan anaknya. Saya sempat menebak dalam hati saya mungkin anak-anaknya pasti sekolah engineering ke luar negeri atau minimal di kedokteran kampus UI Jakarta. Ternyata sebaliknya, buah hatinya sekarang sedang menimba ilmu agama dan sedang menghafal Alquran di sebuah pondok pesantren LLhokseumawe. Bukan tidak sanggup untuk menyekolahkan anak-anaknya di tempat yang top-top. Kalau untuk finansial, mungkin tidak ada masalah buatnya. Namun alasannya, alasan ia menyekolahkan putra-putrinya di pesantren dan hafidh karna tidak ingin anaknya nanti sibuk urusan dunia sehingga sampai lupa dengan beribadah kepada Allah. Beliau juga berharap semoga anak-anak selalu mendoakan orang tuanya ketika orang tuanya sudah menghadap Allah.

Marilah kita menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita sehingga bisa membentuk anak-anak yang shaleh dan berakhlak mulia.[]

Penulis: Mustafa, pekerja swasta di Lhokseumawe.