SUBULUSSALAM – Anak-anak korban pengeroyokan mengaku takut pergi ke sekolah pasca kejadian penyerangan Kamis malam di Kampung Buluh Duri, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam.
Bahkan mereka juga tidak berani pulang ke rumah. Akibatnya satu keluarga ini tidur di ruang rawatan kelas II RSUD Kota Subulussalam, tempat Zulkifli Tinambunan, 43 tahun menjalani perawatan akibat luka robek di bagian kepala.
“Saya masih trauma, belum berani pergi ke sekolah,” kata Yulianti Tinambunan siswi kelas 2 SMAN1 Simpang Kiri kepada portalsatu.com saat ditemui di RSUD Kota Subulussalam, Jumat malam.
Hal itu dibenarkan Julianti, 36 tahun, ibu kandung Yulianti. Ia mengatakan, anaknya takut ke sekolah lantaran di SMAN1 Simpang Kiri banyak anak-anak dari Kampung Badar, Kecamatan Rundeng. Seperti diketahui bahwa rombongan pengoroyokan malam itu berasal dari Kampung Badar.
“Anak saya takut bukan saat di sekolah, tapi saat sedang di jalan menuju ke sekolah atau pun ketika pulang. Dia takut nanti anak-anak kampung badar menyerang dia, seperti yang dialami bapaknya,” kata Julianti didampingi putrinya.
Bahkan, katanya, untuk pulang ke rumah saja mengambil sesuatu keperluan masih takut. Sementara dirinya belum bisa pulang ke rumah karena menemani suami yang sedang menjalani perawatan.
“Belum tahu, sampai kapan anak saya berani ke sekolah, yang SD juga masih takut, mereka saat ini masih trauma sekali, kumpul di sinilah (RSUD) kami semua sekarang,” ungkapnya.
“Karena itu, saya dan keluarga berharap kasus ini harus diproses sesuai aturan hukum, supaya tidak terulang kembali. Sekitar 5 bulan lalu anak saya paling tua, Joni juga pernah dikeroyok, damai tingkat desa, sekarang terulang kembali,” kata Julianti menambahkan.[]



