__Hidupi tujuannya: ini merupakan bagian dari membangun visi bersama berdasarkan usianya, dengan mengarahkan hati dan akalnya pada yang tinggi nilainya (mengenal dan menyembah Allah, misal)___
Oleh Taufik Sentana*
Adanya Hari Anak Nasional yang diperingati hari ini menjadi refleksi bagi kita. Apakah harapan mereka dan harapan kita sudah sesuai? Apakah yang kita anggap penting, penting pula untuk mereka, dan bagaimana kesiapan mereka meretas arus zaman yang terus bergejolak?
Pada era yang serba terbuka dan modern, sebagian menyangka bahwa sekolah formal menjadi ” jalan utama” membangun kehidupan anak. Padahal perlu sinergi yang kuat antara sekolah, keluarga dan lingkungan sosial. Adapun ketimpangan yang terjadi,hanyalah manifestasi dari pranata kita tak terbangun dengan baik.
Keluarnya anak dari “fitrah”nya adalah bagian dari sumbangsih kita, sebelum ia menjadi matang dan mandiri dalam bersikap. Keluarga terdekat menjadi komponen utama dalam memengaruhi perkembangan anak (disusul oleh sekolah dan pergaulan antarmereka).
Berikut ada pola “Hebat” yang dapat kita coba realisasikan dalam menyertai perkembangan anak.
Yaitu, (H) Hidupi tujuannya: ini merupakan bagian dari membangun visi bersama berdasarkan usianya, dengan mengarahkan hati dan akalnya pada yang tinggi nilainya (mengenal dan menyembah Allah, misal). Sampai akhirnya ia mengaitkan antara dunia dan akhirat beserta balasan baik atau buruk.
(E) Eksplorasi, ini bagian dari upaya menggerakkan potensinya (termasuk bersekolah dan berkegiatan ekstra). Biarkan kemungkinan salahnya dalam mengenali lingkungan dan menguasai keterampilan hidupnya.
Biarkan ia merasa nyaman dengan pelajaran di sekolah, tanpa memaksanya untuk menguasai semua pelajaran. Niscaya dengan semangat inquiri, rasa ingin tahu dan cinta akan ilmu akan membawanya pada wawasan dan kecakapan yang diperlukan dalam hidupnya.
(B) Bangun interaksi yang selaras dengan perkembangan diri dan tujuan pendidikan (Islam) yang kita harapkan. Interaksi itu bisa bersifat fisik, sentuhan, pelukan, verbal, ruhiyah (doa) dan beraktifitas bersama. Arahan dan bimbingan bisa kita masukkan dalam poin ini.
(A)Aktivasi emosi diri dan sosial. Kita perlu mengenalkan dan melatih serta membiasakan si anak dalam memahami gejolak dirinya, antara sabar dan marah, antara suka dan benci serta belajar memahami orang lain dan bersikap empati.
(T) Terapkan bersama. Apa yang telah kita yakini dan kita minta untuk anak, mesti bersama kita terapkan. Kita memintanya agar tidak candu dengan HP, maka kitapun mesti menunjukkan cara tidak candu terhadap HP itu. Begitu pula untuk hal lain. Itulah bagian usaha dalam memberikan model yang jelas pada konsep diri anak.
Selebihnya kita mesti selalu berdoa dan mengharapkan yang terbaik untuk anak anak kita. Tentu dengan terus memaksimalkan beragam pendekatan yang sesuai dengan perkembangan anak, dengan memerhatikan pergaulan, belajar formal dan perubahan perilakunya.[]
*Praktisi Pendidikan Islam
Menyusun Buku Hijrah Pendidikan






