<!–StartFragment–>

Kegiatan berlangsung 2 hari, 2-3 November 2019
Nama kegiatan : Indonesia Culture and History Festival : Aceh-Turkey
Tanggal 02 pembukaan dan dari pihak Aceh disampaikan oleh Dalimi SE, DPRA Aceh. Dari pihak Turki oleh Wakil Rektor Fatih Mehmet University
Kgiatan dilanjutkan dengan atraksi budaya Aceh dan buda Turki seperti tarian Saman, Rapai Geleng dan Seudati.
Sedangkan di luar ruang terdapat pameran sejarah Aceh dari Zaman Samudra Pasai – Aceh Darussalam dan juga korespondensi Aceh Turki yang tersimpan di Arsip Usmani, Turki. 

Tanggal 03 kegiatan diisi dengan seminar tentanG Sejarah Aceh Turki
1. Masykur Syafruddin, sebagai Direktur Pedir Museum mengangkat tema: Jejak Hubungan Aceh-Turki, Mengenang untuk Saling Menguatkan

2. Dr.Husaini Ibrahim, MA, Arkeolog dan Sejarawan Aceh menyampaikan makalah : Melacak Jejak Aceh dan Turki

Setelah itu dilanjutkan dengan orasi dan pemaparan buku Kesultan Aceh Darussalam oleh penulisnya, Mehmet Ozay

Masykur  Acara ini sangat penting dan menjadi langkah awal untuk mempererat hubungan Aceh dan Turki

 Pelaksa kegiatan ini IKAMAT

IKAMAT (Ikatan Masyarakat Aceh di Turki) bekerjasama dengan Disbudpar Aceh, Museum Aceh dan Pemda Aceh sukses menyelenggarakan pameran sejarah dan seni budaya Aceh 2019 di Istanbul, Turki. 

Acara yang diselenggarakan selama 2 hari  (2-3 November 2019) dihadiri oleh ratusan penonton, baik dari Indonesia, Turki maupun internasional. 

Acara dibuka langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Turki, bapak Dr. Lalu Muhammad Iqbal, M.Hub.Int. 

Pak Iqbal sangat mengapresiasi acara ini, beliau sangat bangga dengan Ikamat yang telah memenuhi salah satu mimpi beliau yaitu memperkenalkan dan mempererat hubungan Indonesia – Turki melalui ruang sejarah dan budaya. 

“Pilihan teman-teman mengambil sejarah dan budaya dalam memamerkan daerah sudah tepat. Ketika sisi ekonomi, politik pada suatu negara terkadang memberi dampak merenggangkan hubungan antar negara, hubungan sosial budayalah yg menjadi penawar dan pemersatu kembali hubungan tersebut.” Kata beliau. 

Turut hadir mendampingi pembukaan acara Dr Dyah Erti Idawati MT, isteri Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Dalimi,  Wakil ketua DPRA. Serta Jamaluddin, SE, M.Si, Ak, kadisbudpar Aceh.  

Rangkaian acara ini diawali dengan pemutaran vidio dari Disbudpar Aceh yaitu “The light of Aceh”, kemudian disusul oleh tampilan khas seni dari Turki, yaitu Mehter. Mehter merupakan Marching band Utsmani yang dianggap sebagai salah satu marching band tertua di dunia.

Dilanjutkan dengan tari Saman Gayo yang mampu memukau penonton dan tamu undangan. 

Tampilan semakin menarik ketika salah satu masyarakat Aceh yang menetap di Turki, Sarah menyanyikan lagu Hikayat Prang Sabi dengan menampilkan makna hikayat secara langsung di layar tancap acara. 

Acara kemudian ditutup dengan pameran manuskrip dan budaya serta dilanjutkan dengan agenda akademik esoknya. 

*Memfasilitasi pemerintah Aceh*

Selesai acara utama, tanggal 4-5 November 2019 Ikamat beserta perwakilan dari pemerintah Aceh mengunjungi beberapa kantor utama pemerintah Turki di Istanbul, di antaranya mengunjungi Museum Turkish and Islamic Art (TIEM), Dinas kebudayaan dan pariwisata Istanbul, dan Fatih Sultan Mehmet Vakif University. 

Di Museum Turkish and Islamic Art, pihak dari pemerintah Aceh mencoba mencanangkan adanya agenda Aceh corner di museum tersebut. Kemudian study exchange, dimana petugas museum Aceh bisa studi banding ke museum ini. 

Sedangkan agenda di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Istanbul, pihak pemerintah Aceh mencoba memperluas kerjasama dengan upaya agar pameran wisata dan sejarah Aceh bisa dilaksanakan kembali di tahun-tahun selanjutnya.

“Pemeritah Aceh sangat berharap acara-acara seperti ini, terutama kepada teman-teman yg berada diluar negeri. Mari sama-sama mempromosikan budaya dan wisata Aceh di luar negeri. Ikamat sudah sangat luar biasa mempromosikan aceh di luar negeri. Mudah-mudahn acara ini berlanjut dan kita berharap tahun depan lebih banyak lagi yang mendukung acara ini. Apalagi kita telah mendapat respon positif dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Turki di Istanbul”, terang bapak Jamaluddin, kadisbudpar Aceh. 

Di Fatih Sultan Mehmet Vakif University, agenda yang dihasilkan berupa join research atau student exchange. Dimana nantinya universitas-universitas di Aceh, bisa mengirim putra dan putri terbaiknya untuk ikut program ini. 

Haykal, ketua Ikamat sekaligus translator dalam pertemuan dengan pimpinan Fatih Sultan Mehmet Vakif University sangat senang dengan program yang dihasilkan ini. Dia berharap agar universitas-universitas di Aceh mampu mengambil kesempatan besar ini.  

“Semoga ada respon cepat dari Unsyiah, UIN Ar-Raniry, Unimal, UTU, dan beberapa kampus besar lainnya di Aceh untuk mengambil peluang bagus ini. Bisa dengan pengiriman dosen-dosen maupun mahasiswa. Kami selaku mahasiswa Aceh di Turki sangat mendukung dan akan membantu semaksimal mungkin untuk kegiatan exchange ini,” Pungkas Haykal, ketua Ikamat.[] RIlis<!–EndFragment–>