BLANGKEJEREN – Anggota Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Gayo Lues menggelar gotong royong di Stadion Buntul Nege Blangsere, Sabtu, 17 Juli 2021. Kegiatan mempererat silaturahmi antarpemlik kuda itu juga dihadiri Bupati H. Muhammad Amru dan Wakil Bupati H. Said Sani.
Anwar Roby Karya, Ketua Pordasi Gayo Lues, mengatakan gotong royong membersihkan lapangan pacuan kuda di Stadion Buntul Nege dilakukan Pordasi untuk menambah semangat pemilik kuda, sehingga kuda-kuda yang dirawat selama ini tidak dijual.
“Karena pandemi Covid-19 ini, banyak sekali pemilik menjual kudanya. Hal itu disebabkan lantaran tidak ada perlombaan pacuan kuda yang biasanya dilakukan Pemda Gayo Lues, Aceh Tengah dan Bener Meriah setiap tahun, jadi biaya perawatan membengkak,” katanya.
Anwar Roby Karya menyebut untuk memotivasi pemilik kuda, Pordasi mengadakan acara gotong royong, makan bersama, dan berupaya mengajak pemilik kuda agar kembali rutin melatih kuda-kudanya di Stadion Buntul Nege. Sehingga saat diadakan perlombaan nantinya, kuda Gayo Lues tetap bisa meraih juara.
“Semenjak Covid-19, sudah banyak sekali kuda pacu Gayo Lues dijual ke luar daerah, bahkan harganyapun sangat anjlok. Jika sebelumnya harga kuda mencapai Rp50 juta, maka di tengah pandemi ini hanya dijual Rp25 juta, anjlok mencapai 50 persen,” jelas Roby Karya.
Ketua Pordasi menggajak seluruh pemilik kuda agar kembali membawa kudanya ke Stadion Buntul Nege untuk dilatih. Upaya itu akan menambah semangat dan silaturahmi tetap terjalin seperti sebelum masa pandemi Covid-19.
“Lomba pacuan kuda sudah turun temurun diadakan di Gayo Lues sejak zaman dulu, dan sudah menjadi budaya kita. Jadi untuk melestarikannya, kami akan terus berupaya agar pemilik kuda tetap bersemangat menunggu perlombaan pacuan kuda,” ujarnya.
Anggota Pordasi juga mengusulkan kepada Bupati dan Wakil Bupati Gayo Lues agar Pemda membeli kuda pejantan, sehingga biaya setiap pemilik kuda yang mengawinkan kudanya bisa menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Selama ini jika ada kuda betina warga Gayo Lues yang ingin dikawinkan dengan pejantan super, terpaksa ke Aceh Tengah atau Bener Meriah. Biayanyapun sangat mahal, jika ada di Gayo Lues, otomatis lebih memudahkan pemilik kuda,” kata Baim, salah satu anggota Pordasi.[]

(Bupati dan Wakil Bupati Gayo Lues makan bersama dengan anggota Pordasi saat gotong royong di Stadion Buntul Nege. Foto: istimewa)





