SUBULUSSALAM – Harga tanda buah segar (TBS) ke­lapa sawit mulai ber­angsur naik ber­kisar antara Rp930-Rp950 per kilogram di ting­kat pe­tani dalam wilayah Kota Subu­lus­salam, sejak  sepekan ter­akhir.

Kondisi ini sedikit membuat petani lega setelah sebelum­nya harga TBS turun drastis Rp700 per kilogram, bahkan Rp600 per kilogram pada titik terendah, di daerah yang jauh dari pabrik.

“Alhamdulillah, sekarang sudah naik sedikit dibanding­kan sebelum­nya. Sekarang Rp950 per kilogram tingkat pe­tani,” kata Rahmin, salah seorang petani sawit di wilayah Kecamatan Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Jumat, 25 Januari 2019.

Sebelumnya, harga TBS  hanya berkisar antar Rp800-Rp830 per kilogram, dan terendah Rp700 per kilogram di tingkat pe­tani hampir sepanjang tahun 2018.  Hal ini meng­akibatkan petani menderita lan­taran hasil panen tidak sesuai de­ngan biaya pengeluaran untuk pera­watan kebun.

“Sebenarnya harga Rp950 per kilogram itu masih sangat murah, dengan kondisi harga kebutuhan pokok yang masih serba mahal, tapi mau bagai­mana lagi itulah kondisi hari ini. Ka­lau tidak dijual nanti buah sawit busuk di batang,” ungkapnya.

Menurutnya, idealnya harga di tingkat petani Rp1.500 per kilogram, itu baru sesuai dengan kondisi harga barang sekarang ini masih tergolong mahal bagi kalangan petani.

Meski begitu, ia bersama sejumlah petani lainnya bersyukur karena TBS sudah berangsur naik dalam be­berapa hari terakhir. Petani berharap TBS bisa menembus angka Rp1.700 per kilogram sebelum Ramadan nanti.

“Awal tahun lalu TBS naik sampai Rp1.500 per kilogram di tingkat petani,” katanya mengenang harga TBS tahun lalu.

Fakri petani sawit lainnya menambahkan, kondisi per­eko­nomian petani sangat ditentukan harga TBS. Jika harga sawit turun, pendapatan petani merosot, ekonomi pun lesu, begitu juga sebaliknya saat TBS naik.

“Karena kami sangat tergantung dari harga TBS. Usaha kebun sawit satu-satunya sumber mata pencaha­rian kami,” ungkapnya.[]