BANDA ACEH – Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, Safrizal Rahman, mengatakan angka kematian akibat Covid-19 di Aceh berdasarkan data dipublikasi tim Gugus Tugas Aceh mencapai 72 orang. Namun, apabila ditelusuri di masyarakat maka angka tersebut lebih besar.
Safrizal menjelaskan tren kematian yang kurang jelas dan arahnya ke Covid-19 itu sebenarnya banyak terjadi di masyarakat. Hal ini menjadi kekhawatiran bahwa kondisi Covid-19 di Aceh tidak terkendali dengan baik. “Kasus-kasus covid yang mengalami kematian di rumah sakit pun semakin hari semakin banyak,” kata Safrizal Rahman, Jumat, 4 September 2020.
Menurut Safrizal, tingginya angka kematian disebabkan pasien mempunyai penyakit penyerta, penyakit-penyakit kronis. Inilah yang menjadikan mereka rentan terpapar bahkan sampai meninggal. “Yang masalah ketika terlalu banyak mereka positif dan menyebarkan ke orang lain, orang-orang yang memiliki penyakit kronis dan berusia tua ini akan semakin rawan,” ujarnya.
Agar mereka tidak terpapar, lanjut Safrizal, dengan cara bersama-sama memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Paling tidak, tidak dekat dengan mereka yang sangat rentan terkonfirmasi. “Kita minta orang jangan keluar-keluar supaya covidnya hilang dari mereka yang menderita sakit,” ungkap Safrizal.
Safrizal menyampaikan, berdasarkan catatan pihaknya tenaga kesehatan yang terkonfirmasi positif di seluruh Aceh saat ini mencapai di atas 200 orang. Satu orang meninggal dunia di RSUDZA, Rabu, 2 September 2020. “Besar kemungkinan kasus yang terdata itu tidak riil, karena kita tidak melakukan aktif pencarian kasus,” jelasnya.
Menurut Safrizal, 80 persen orang tanpa gejala, tidak akan menyebabkan mereka sakit. Akan tetapi, 80 persen ini bisa membawa menyebarkan kepada orang-orang yang kemudian menjadi bergejala. “Kalau dari sisi kapasitas kesehatan di Aceh sudah sangat kesulitan menghadapi peningkatan kasus covid. Baik itu dari tenaga medis maupun fasilitas medis,” pungkasnya.[](*)


