LHOKSEUMAWE – Lhokseumawe menempati peringkat kedua tertinggi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Aceh pada Agustus 2017 setelah Aceh Utara. Berdasarkan data dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, TPT Kota Lhokseumawe mencapai 10,51 persen.

Baca: Tingkat Pengangguran Terbuka: Aceh Utara dan Lhokseumawe Tertinggi di Aceh

TPT Kota Lhokseumawe pada Agustus 2017 meningkat dibandingkan TPT pada tahun 2015 dan 2016. Berdasarkan data diperoleh portalsatu.com/ dari pihak BPS Kota Lhokseumawe, Rabu, 8 November 2017, TPT Kota Lhokseumawe tahun 2015 sebesar 9,56 persen dan 2016 sebesar 8,67 persen.

“Penganggur kita (di Lhokseumawe) paling banyak tamatan SMA, karena lapangan kerja yang tidak terbuka (tersedia) untuk mereka,” ujar Kepala BPS Kota Lhokseumawe Yudi Yos Elvin.

Dia menyebutkan, perlu solusi dari Pemko Lhokseumawe agar para lulusan SMA dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sehingga tidak menjadi penganggur. “Apalagi kita punya Unimal, IAIN, Politeknik Negeri Lhokseumawe dan perguruan tinggi lainnya. Orang dari luar saja kemari untuk kuliah di Lhokseumawe. Jadi, Pemerintah (Lhokseumawe) harus memikirkan (solusi bagi para tamanan SMA untuk bisa menempuh pendidikan tinggi), apakah diberi beasiswa, misalnya,” kata Yudi.

Menurut Yudi, Pemko Lhokseumawe juga harus memastikan agar perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Lhokseumawe dalam setiap perekrutan calon tenaga kerja mengutamankan sumber daya manusia (SDM) lokal.

Selain penganggur, menurut data BPS, angka kemiskinan di Lhokseumawe juga meningkat. Jumlah penduduk miskin tahun 2014 sebanyak 22.48 ribu, 2015 meningkat menjadi 23.15 ribu, dan 2016 mencapai 23.28 ribu jiwa. Secara persentase kemiskinan, tahun 2014 mencapai 11.93 persen dan 2015 naik menjadi 12.16 persen.

Ditanya apa saja program yang dirancang Pemko Lhokseumawe untuk tahun 2018 guna mengurangi angka pengangguran, Kepala Bappeda Mulyanto mengatakan, visi dan misi wali kota dijabarkan oleh masing-masing dinas atau SKPK. “Terkait program mengurangi angka pengangguran, mungkin bisa dikonfirmasi langsung dengan dinas yang membidangi tenaga kerja,” ujar Mulyanto menjawab portalsatu.com/ lewat telepon seluler, Rabu, 8 November 2017, malam.

Siapkan SDM untuk KEK Arun

Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Lhokseumawe Amiruddin dihubungi, Rabu malam, mengatakan, pihaknya tengah mengupayakan gedung untuk Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) guna menyiapkan SDM lokal terkait proyek Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun.

“Kita sudah beberapa kali menyurati pihak LMAN (Lembaga Manajemen Aset Negara) agar memberikan rumah di (eks)-Kompleks Perumahan PT Arun (Batuphat, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe) untuk BLKI atau tempat workshop. Karena pihak Kementerian Ketenagakerjaan akan membantu peralatan pelatihan, tapi kita diminta menyediakan tempat atau bangunan untuk BLKI,” ujar Amiruddin.

Amiruddin menyebutkan, selain gedung untuk BLKI, pihaknya juga meminta kepada LMAN agar memberikan 39 rumah di eks-Kompleks PT Arun itu sebagai tempat tinggal para peserta selama mengikuti pelatihan dan praktek. “Mereka (LMAN) meminta kita bersabar, karena untuk memberikan rumah yang kita minta untuk gedung BLKI, harus diputuskan melalui rapat, baru bisa diserahkan kunci,” katanya.

“Untuk sementara kita minta pinjam pakai dulu (rumah untuk gedung BLKI), sudah kita bersihkan dan kita pasang papan nama beberapa hari lalu. Rencana kita, jika sudah ada peralatan pelatihan, tahun 2018 akan kita didik calon tenaga kerja supaya ada skill (keterampilan). Ini juga dalam rangka menghadapi KEK Arun,” ujar Amriruddin.

Menurut Amiruddin, pihaknya berencana membuat pelatihan untuk lima bidang, di antaranya perbengkelan. “Termasuk mengelas. Jadi ini dalam rangka KEK Arun agar nanti SDM kita sudah siap. Rencana, pelatihan itu kita sertifikasi,” katanya.[](idg)