Minggu, Juli 14, 2024

Tanggapan Ketua DPRK Aceh...

ACEH UTARA - Mendagri Tito Karnavian memperpanjang masa jabatan Pj. Bupati Aceh Utara...

Selamat! 2 Siswa Kota...

SUBULUSSALAM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta...

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...
BerandaAngka Perceraian di...

Angka Perceraian di Gayo Lues Tinggi, Ini Penyebabnya

BLANGKEJEREN – Kasus perceraian yang ditangani Mahkamah Syari'ah Kabupaten Gayo Lues tahun 2020 masih sangat tinggi jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Rata-rata kasus gugat cerai yang diajukan ke Mahkamah Syari'ah akibat suami tidak sanggup menafkahi istrinya.

Munawar Khalil S.HI., M.Ag., Humas Mahkamah Syari'ah Gayo Lues, Senin, 23 November 2020, mengatakan cerai gugat yang ditangani pihaknya berjumlah 53 kasus, dan cerai talak 32 kasus. Dari 85 kasus tersebut, gugat cerai akibat perselingkuhan lima kasus.

“Sampai akhir November 2020 ini, jumlah kasus yang kita tangani 736 kasus, CG (cerai gugat) dan CT (cerai talak) sudah 85 kasus, kemudian kasus jinayah, dan kasus lainnya. Kalau tahun 2019 jumlah kasus yang kita tangani 96 kasus, CT dan CG berjumlah 84 kasus, sisanya ada kasus pembagian harta warisan,” katanya.

Berdasaarkan data dihimpun Mahkamah Syari'ah, CG akibat permasalahan ekonomi yang tidak sanggup dipenuhi oleh kepala keluarga (suami). CT akibat terlalu banyak ikut campur pihak keluarga atau pihak ketiga, itupun berawal dari merosotnya ekonomi hingga suami melakukan kekerasan terhadap istri, dan istri melarikan diri ke rumah orang tuanya.

“Kalau dibilang ekonomi merosot akibat pandemi Covid-19 saya rasa tidak ya, karena di Gayo Lues ini rata-rata orang masih bisa berusaha ke kebun. Jadi kasus perceraian menurut kami bukan karena Covid-19, tetapi karena faktor kepala keluarga tidak bisa memenuhi kewajibanya,” katanya saat ditanyai apakah tingginya kasus perceraian di Gayo Lues ada kaitanya dengan dampak Covid-19.

Menurut Munawar, kebanyakan yang mengajukan perceraian merupakan pasangan yang dahulunya kawin lari dan kemudian dinikahkan secara sah oleh KUA dan perangkat desa. Sedangkan pasangan yang menikah secara lamaran hanya sedikit jumlahnya yang mengajukan perceraian.

“Sekarang ini bagi anak yang di bawah umur ingin melangsungkan pernikahan bisa mendaftarkan dispensasi dulu ke Mahkamah Syari'ah. Nanti setelah disidangkan, kalau memenuhi persyaratan, maka Mahkamah Syari'ah akan mengeluarkan rekom dan dibawa ke KUA untuk melangsungkan pernikahan secara sah,” jelasnya.

Munawar menegaskan, setiap orang yang hendak mengajukan gugatan perceraian ke Mahkamah Syari'ah harus terlebih dahulu dilakukan mediasi oleh perangkat desa yang bersangkutan. Jika tidak bisa diselesaikan, barulah kepala desa membuat surat bahwa tidak ada titik temu. Kemudian surat itu menjadi salah satu syarat pengajuan permohonan gugatan cerai.

“Jika tidak ada surat itu, kami tidak akan proses berkasnya. Dan kami berharap agar kepala desa juga jangan sembarangan membuat surat tersebut sebelum melakukan mediasi dengan pihak dan perangkat desa yang bersangkutan, ini demi menghormati kearifan lokal,” katanya.[]

Baca juga: