BANDA ACEH – PT Angkasa Pura-II menggelar kegiatan penanggulangan dan simulasi Airport Emergency Exercise (AEE) dan Airport Contingency Exercise (ACE) Rencong Dirgantara VI 2018, di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar, Kamis, 25 Oktober 2018.
Turut hadir Komandan Lanud SIM, Kolonel. Nav Indrastanto Setiawan, S.Sos., Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali, Asisten II Setda Aceh, Taqwallah, Direktur Bandar Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub RI, Bintang Hidayat, GM APII Bandara SIM, Yos Suwagiono, Kasi Intel Kejari Aceh Besar, Yudi, Manager Ops APII SIM, Sukarni, dan tamu berbagai instansi terkait lainnya.
“Otoritas bandara selalu dalam bersinergi untuk memberikan pelayanan yang terbaik guna berkembang dan majunya Bandara Sultan Iskandar Muda. Tujuannya untuk mencegah dan menanggulangi emergency bandara. Kita tetap bertekat untuk meningkatkan dan menjaga komunikasi dan bekerja sama dengan semua pihak otoritas yang ada di Bandara SIM,” ujar Yos Suwagiono, GM PT Angkasa Pura-II Bandara SIM Aceh Bersar.
Direktur Bandar Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub RI, Bintang Hidayat, mengatakan, kegiatan AEE dan ACE itu wajib dilakukan seluruh bandara. Tujuannya melatih kesiapsiagaan petugas dalam mengatasi keadaan darurat di bandara dari berbagai jenis keadaan darurat, dan ancaman dapat terjadi di wilayah bandara seperti ancaman teroris, kecelakaan pesawat, bencana alam, dan gangguan keamanan lainnya.
Menurut Bintang Hidayat, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, karena akan mengganggu stabilitas aktivitas bandara. Belajar dari pengalaman bencana alam di Palu, Sulawesi Tengah, kata dia, pihaknya telah merencanakan untuk melakukan pelatihan khusus dalam penanggulangan bencana di bandara. Salah satu komponen utama yang perlu cepat dipenuhi adalah komunikasi pascabencana demi mengetahui keadaan kelayakan bandara untuk beraktivitas.
“Kita berharap agar pihak PT Angkasa Pura-II Bandara SIM dapat segera menyediakan alat komunikasi darurat yang dapat digunakan dalam keadaan bencana, seperti telepon satelit dan sebagainya. Koordinasi antara penyelenggara jasa Bandara SIM Aceh dengan aparat dan instansi terkait diharapkan dapat terus terjalin dengan baik, demi mewujudkan pelayanan transportasi udara yang profesional,” ujar Bintang Hidayat.
Asisten II Setda Aceh, Taqwallah, menyebutkan, Pemerintah Aceh mendukung setiap kegiatan dilakukan Angkasa Pura II Bandara SIM, karena keberadaan bandara tersebut dinilai sangat penting bagi pemerintah demi meningkatkan perekonomian dan pariwisata khususnya di Aceh.
“Simulasi penanganan keadaan darurat sangat diperlukan untuk mencegah segala kemungkinan gangguan aktivitas bandara. Untuk itu, kita berharap agar seluruh petugas yang terlibat dapat mengikuti pelatihan secara serius dan profesional,” katanya.[](rel)



