Oleh Thayeb Loh Angen*

Kaum baru Aceh, yang akrab disebut kaum milenial, menuturkan kata 'palis' untuk menghaluskan kata 'paleh' dalam bahasa Aceh, seakan itu adalah bahasa Melayu/Indonesia.

Mereka menggunakan kata 'palis' untuk bersenda gurau karena kata tersebut dapat diketahui maknanya oleh pendengar, hanya, mereka tidak tahu bahwasanya kata 'palis' itu memang benar adanya di dalam bahasa Jawi (bahasa induk daripada bahasa dunia Melayu termasuk bahasa Indonesia).

Di dalam Syair Anak Dagang karya Syeikh Hamzah Fansuri, ada kosa kata “palis”, yang menunjukkan bahwasanya kata tersebut itu adalah kosa kata daripada bahasa Jawi (Sumatra) yang dibangsakan kepada Pasai, sebagai bahasa lingua fanca atau bahasa pergaulan atau bahasa perantara antarbangsa dunia Melayu di Asia Tenggara sejak saat itu.

Inilah syairnya:

“Fawq al-markab (di geladak kapal) yogya kau jalis (duduk)
Sauhmu da’im baikkan habis
Rubing syari`at yogya kau labis
Supaya jangan markabmu palis.”

Syair tersebut kukutip daripada syarah karangan sastrawan besar Indonesia, Prof Dr Abdul Hadi WM, yang disiarkan oleh laman republika.co.id tahun 2018 berjudul Tamsil Dagang Dalam Puisi Esai Sastra Hamzah Fansuri, saat kucari pola kalimat bahasa Jawi di zaman Syeikh Hamzah Fansuri dan zaman yang kemudian daripada itu. 

Walaupun banyak ragam kata orang tentang di zaman kapankah hidup Syeikh Hamzah Fansuri dan di mana makamnya, tetapi untuk sementara, kuyakini bahwasanya, Syeikh Hamzah Fansuri itu hidup di antara pertengahan akhir abad 15 dan pertengahan awal abad 16 Masehi, dan dia menjadi syaikhul Islam pada masa Sultan 'Ali Alaidin Mughayat Syah.

Sultan 'Ali Alaidin Mughayat Syah adalah seorang pendiri dan sultan pertama Kesultanan Aceh Darussalam yang bertakhta daripada tahun 1514 sampai wafatnya pada tahun 1530. Dialah seorang pemuda bijaksana dan pemberani yang mendirikan Kesultanan Aceh Darussalam tatkala Kesultanan Sumatra Pasai dan anak negeri sekutunya yaitu Kerajaan Negeri Lamuri, dan Kerajajan Negeri Melaka direbut oleh Portugis.

Seyogianya, untuk dapat membuat sesuatu yang besar di zaman tersebut, seorang 'Ali Mughayatsyah mendapatkan penasehat sekelas Hamzah Fansuri. Sultan 'Ali dapat mendirikan sebuah negara besar daripada reruntuhan negara besar dan mampu membuat Pakta Pertahanan Samudra Hindia, yang anggotanya dari Asia Tenggara sampai Malabar di Hindia Selatan, dengan dia sendiri sebagai ketuanya.

Mari kita kembali membicarakan kosa kata dalam syair Syeikh Hamzah Fansuri. Ulama pertama yang menulis dalam bahasa Jawi ini banyak memakai istilah-istilah sufi berbahasa Arab di dalam syair-syairnya. Hal itu menandakan, saat dia menulis itu, menggunakan bahasa Arab dalam percakapan keseharian adalah hal yang biasa.

Oleh karena itu, tatkala budaya berbahasa di dunia Melayu mulai berubah secara perlahan-lahan, sekira seratus tahun kemudian daripada itu, maka muridnya, yakni Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani, menulis sebuah buku (kitab) berjudul Syarah Ruba'i Syeikh Hamzah Fansuri.

Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani menuliskan dia untuk mengajarkan masyarakat akan maksud daripada syair-syair Syeikh Hamzah Fansuri. Syair-syair tersebut mulai dianggap tidak mudah dipahami lagi di zaman itu dan zaman kemudian daripada itu, apalagi di zaman sekarang, sekira 500 tahun setelah Syeikh Hamzah Fansuri menuliskan dia.

Jika ditanyai orang, mengapa engkau perlu mempelajari sastra, khususnya syair-syair, jawab olehmu dengan kata bijaksana daripada Khalifah Umar bin Khattab, yaitu “Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu. Sebab sastra akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani.” 

Dengan merujukkan syair daripada Umar bin Khattab tersebut itu, niscaya amat sangat sesuailah kiranya Sultan 'Ali Mughayarsyah dapat berani mendirikan kesultanan besar dan membangun sekutu raya untuk melawan kembali Portugis, karena penasehatnya adalah sastrawan yang juga ulama besar Syeikh Hamzah Fansuri.

Bandar Aceh Darussalam, 11 Oktober, 2020 M/23 Safar, 1442 H.[]   

*Budayawan, Kepala Sekolah Hamzah Fansuri.