Kampanye di panggung politik di Indonesia, termasuk di Aceh sering dimeriahkan dengan pertunjukan musik.
Karena orang orang menyukai hiburan, itulah alasan utama disertakannya musik di sana, yakni, untuk menarik minat pengunjung dan tidak bosan mendengar pidato politik, yang sering berisi mimpi palsu dan menyakitkan telinga.
Sekilas itu hal biasa. Namun jika ditilik dari sisi dukungan untuk kemajuan seni oleh para politisi yang menjabat di pemerintahan, maka berkesan, mereka tahu pentingnya seni hanya saat kampanye. Tidak ada kebaikan hati untuk memajukan seni, baik musik atau lainnya.
Bahkan para seniman yang masuk dunia politik karena telah masyhur namanya akibat seni, tidak melakukan apapun untuk itu.
Katakanlah, di Aceh, ada Rafli dan Haji Uma. Apa yang telah mereka lakukan untuk dunia yang telah membesarkan nama mereka? Tidak ada. Mereka seakan 'mengkhianati' kepercayaan seniman. Besar kemungkinan, gara gara mereka berdua, setelah itu, jika ada seniman yang masuk dunia politik akan kurang mendapat perhatian dari kalangan seniman itu sendiri. Mereka trauma dengan hasil yang telah ada.
Maka, bagaimana masalah itu dapat diselesaikan?
Tujuan. Para seniman sebaiknya memiliki tujuan hidup untuk lebih dari sekedar berkarya, terkenal, dapat uang, dan sebagainya. Harus ada impian untuk kepentingan Aceh secara bersama yang lebih besar daripada mimpi pribadi.
Dalam hal ini, Ali Hasjmy memiliki kinerja sebagai seniman yang berjiwa membangun. Ia menggunakan pengaruhnya untuk beberapa hal di bidang yang ia geluti.
Ada pertemuan sejarah berskala internasional, ada mendirikan fakultas dakwah di Aceh, yang kemudian ditiru seluruh Indonesia, ada pustaka dan lainnya.
Kembali pada masalah politisi yang mengabaikan seni, kita, para seniman sebaiknya melakukan langkah langkah terukur untuknya. Langkah langkah itu dimulai dari menelaah kembali impian, mengapa menjadi seniman.
Thayeb Loh Angen, penulis Novel Aceh 2025.




