SAMALANGA – Pengajian Tasawuf, Fiqh dan Tauhid atau Tastafi pusat yang diasuh langsung oleh Al Mukarram Al Mursyid Abu Mudi Mesra kembali dilaksanakan pada Rabu lalu di Balee Inti, Samalanga, Bireuen. Pengajian ini dihadiri berbagai kalangan masyarakat baik ulama, pimpinan dayah, tokoh masyarakat serta intelektual muslim yang datang dari berbagai penjuru Aceh.
Almukarram dalam pengajian yang mengupas kitab Tuhfah Al-Muhtaj kali ini membahas tema mengenai salat minta hujan atau salai Istisqa.
Abu menjelaskan, salat istisqa itu diklasifikasikan kepada tiga macam, pertama, hanya berdoa, kedua, doa setelah melakukan sembahyang walaupun salat jenazah, ketiga, salat yang ma'ruf yang disertai dengan khutbah dan ajakan untuk bertaubat dan berbuat kebaikan.
Dalam salat istisqa saat Rasulullah berkhutbah di hadapan khlayak ramai beliau membalikkan rida' ( kain yang sering di pakai di bahu) sebagai bentuk tafaul.
“Rasulullah sendiri melakukan tafaul di sini, jadi orang yang anti dengan tafaul seperti peusijuek (tepung tawar) dan sejenisnya merupakan juga anti kepada rasulullah,” ujar sang Al-Mursyid Naqsyabandiah itu.
Abu juga menjelaskan di samping saat kemarau yang melanda bumi dianjurkan salat istisqa, bahkan saat gempa juga di sunatkan salat.
“Bukan hanya disunatkan salat istisqa saat kemarau juga ketika gempa disunatkan salat sunat,” lanjutnya.
Perbedaan Salat Istisqa dan Gerhana
Sunat salat istisqa tidak luput anjuran sunat walaupun dilakukan setelah hujan turun dan ini berbeda dengan salat gerhana, tidak sunatkan salat apabila gerhana telah tiada.
“Perbedaan salat Istisqa dengan salat gerhana, salat istisqa bertujuan untuk rahmat dan tidak hilang walaupun hujan telah tiba. Ini berbeda dengan salat gerhana untuk menghilangkan rasa takut,” papar pimpinan dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga itu.[]




