BANDA ACEH – Ketua Jurusan Sejarah FKIP Unsyiah, Nurasiah, M.Pd, menilai anugerah Pahlawan Nasional yang diberikan kepada Laksamana Keumalahayati sudah tepat. Lagipula tokoh ini dinilai memiliki peran penting bagi Aceh, khususnya di kawasan Selat Malaka pada abad 16 Masehi.

"Laksamana Keumalahayati pernah berperan besar memimpin pasukannya untuk mengamankan Selat Malaka dari bangsa-bangsa Eropa yang datang ingin menguasai kawasan Malaka," kata Nurasiah, menjawab portalsatu.com/ melalui telepon genggam, Kamis, 9 November 2017.

Nurasiah menyebutkan kegigihan Laksamana Malahayati dalam mengamankan Selat Malaka diturunkan dari darah keluarganya. Menurut Nuraisah, ayah Keumalahayati merupakan seorang laksamana yang diketahui bernama Mahmud Syah. Sementara kakek perempuan Aceh ini adalah Laksamana Muhammad Said Syah.

Sultan Alauddin Mansyur Syah mengangkat Laksamana Malahayati saat Malaka jatuh ke tangan Portugis. Dia merupakan laksamana laut wanita pertama pada waktu itu.

“Meskipun Keumalahayati saat itu seorang janda yang suaminya meninggal sewaktu berperang dengan Portugis, tetapi dia mampu memimpin ribuan pasukan Inong Balee untuk menyerang Portugis di Malaka,” katanya lagi. 

Nurasiah juga mengatakan peran lain Laksamana Malahayati dalam sejarah Aceh adalah berhasil memimpin serangan ke angkatan laut Belanda, yang dipimpin Cornelis de Houtman bersaudara.

Sebelumnya diberitakan, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menetapkan empat tokoh di Nusantara sebagai Pahlawan Nasional. Anugerah ini diberikan Presiden Indonesia di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis, 9 November 2017.

Adapun para tokoh yang ditetapkan melalui Keppres No 115/TK/Tahun 2017 tersebut di antaranya, Laksamana Keumalahayati dari Aceh, pendiri HMI Lafran Pane dari Yogyakarta, Mahmud Riayat Syah dari Kepri, dan Zainuddin Abdul Madjid dari NTB. 

Dari keempat Pahlawan Nasional yang baru ditetapkan tersebut, nama Laksamana Keumalahayati bisa dikatakan menjadi daya tarik tersendiri. Dia menjadi laksamana wanita pertama di dunia yang diangkat menjadi pahlawan.

Sehubungan dengan itu, kata Nurasiah, kepemimpinan tokoh angkatan laut wanita Aceh ini juga menunjukkan kesetaraan gender sudah berlaku di Aceh sejak dulu.

“Di mana Laksamana Keumalahayati membuktikan bahwa kepemimpinan itu ditunjukkan berdasarkan kemampuannya. Ini sudah dibuktikan oleh beliau yang keberanian lautnya, sudah dikenal di dunia,” ungkapnya lagi.[]