Oleh: Thayeb Loh Angen*
Pagi itu, Apa Maun muncul di kedai kupi Apa Basyah. Wajahnya pucat bagaikan cairan alpukat dan tubuhnya basah kuyup seperti anak ayam jatuh ke kolam.
“Kupi sikhan!” katanya dengan lungkai, tidak gagah seperti biasanya.
“Apa Maun. Jeh, pakon didroeneuh. Ka meuchuk-chuk lagee aneuk burujuek ban ceh?” Apa Main masuk ke kedai Apa Basyah.
“O, engkau rupanya, Apa Main. Mari minum kopi, bagaikan kemarin,” kata Apa Maun datar.
“Ini tidak seperti kemarin. Kemarin engkau gagah bersemangat, akan tetapi hari ini. Hari ini…” Apa Main tidak melanjutkan kata-katanya. Kopi sudah sampai di hadapannya.
“Enak dua kali kopi ini,” Apa Main menyeruput kopi.
“Itu salah. Yang benar enak sekali!” Apa Basyah membetulkan kata-kata Apa Main.
“Ka iem kah, Basyah. Bek ka jak peusabe puk ngon ureung chik. Dikah ka sareng-sareng kupi mantong,” Apa Main menyeruput kopi lagi seraya menjelaskan.
“Enak dua kali maksudnya. Enak kali pertama waktu meneguk, enak kedua kali waktu menelan, akan tetapi ketiganya tidak enak.”
“Apa itu?” Apa Basyah menimpani kata Apa Main.
“Sudah kubilang, jangan ikut campur!”
“Ketiganya, …”
“Apa itu?” tanya Apa Basyah.
“Ka iem, kah, Basyah!” Bentak Apa Main yang seketika langsung terlompat.
“Yang ketiga itu tidak enak, karena engkau minta bayaran kopi itu,” sahut Apa Maun.
“Betul. Engkau memang pandai, Apa Maun.”
“Engkau minum sahaja, Main. Aku yang bayar seperti biasanya.”
“Berarti kopi hari ini, tiga kali enak,” Apa Main menyeruput kopi lagi dan membaca koran terbalik, lalu membetulkan letaknya setelah menemukan gambar. Ia tidak dapat membaca huruf Latin. Ia hanya melihat-lihat gambar di koran itu. Kemudian daripada itu, dia pun melihat Apa Maun lagi.
“Waha Apa Maun, apa yang membuatmu gundah hari ini.”
Apa Maun pun menceritakan kisahnya.
Tadi malam. Ketua dewan gampong diminta melantik geuchik baru. Sementara ia kemarin malah meminta orang yang sebelumnya diangkat sebagai pelaksana tugas geuchik itu diberhentikan. Apa Maun pun juga tidak menginginkan itu, walaupun dia satu kumpulan dengan partai yang menaikkan geuchik pengganti itu. Apa Maun sebenarnya hanya mendukung calon geuchik yang kemudian terpilih untuk naik, akan tetapi orang itu telah ditangkap dan dibuang ke pulau asing, karena alasan tertentu.
“Apa hubungannya denganmu? Engkau cuma petani di sawah, bukan anggota partai, apalagi pejabat gampong ini,” sela Apa Main.
'Memang bukan itu masalahnya.” Apa Maun menyeruput kopi sampai habis.
“Apa juga?” sela Apa Basyah.
“Ka iem kah Basyah. Ka tamah supi sikhan teuk keu Apa Maun.”
“Aku bukan siapa-siapa dalam pertempuran itu, akan tetapi kami sekeluarga mendukung orang yang telah ditangkap itu untuk geuchik, bahkan saat orang-orang melarangnya. Yang paling menyakitkanku, mengkhianati pemimpin kafilah dengan mendukung orang itu. Akan tetapi kini, pemimpin kafilah batal menjadi geuchik dan yang kami naikkan telah dibuang jauh-jauh,” Apa Maun tertunduk. Tangannya menggores-gores meja kayu di hadapannya.
“Lalu, mengapa engkau basah begini pagi-pagi.”
“O, itu tadi tatkala ke sini, aku melewati rumah kepala pemenangan kami. Ada tumpukan itoken bulut (kaos kaki basah) di hadapannya. Ia terjatuh ke dalamnya, maka aku pun berlari mendekat untuk menyelamatkannya, akan tetapi aku tergelilincir juga dan ikut terjatuh ke dalam itoken bulut itu.
“Itu itoken siapa?” tanya Apa Main.
“Itu itoken milik orang yang kami angkat untuk geuchik dulu.”
“Kenapa ada di rumah kepala pemilihan kalian.”
“Ia yang bertugas menjualnya. Aku juga pernah,” Apa Maun menyeruput kopi yang baru ditaruh di atas meja di hadapannya oleh Apa Basyah.
Sekali seruput, ia langsung menyemburkannya, membasahi wajah Apa Main dan Apa Basyah.
“Ini pahit sekali!” teriak Apa Maun.
Bandar Aceh Darussalam, 4 November, 2020.[]
*Budayawan.






