Ulasan Oleh Taufik Sentana*
======================
Apabila Hujan Turun
Malam meraba mimpi
cangkrik dari sawah membelah sunyi
suaramu memenuhi hati
Sekelebat sujud
setakat tahajud
tentang doa bersama kita
mawaddah wa rahmatNya
Kupandang wajah manja
kudengar canda
dari gadis penyeruput es krim mangga
Lagu lagu lambat syahdu sayup dan nyaring
pengiring kita di meja susun aksara
Kita bercerita tentang apa jua
apabila hujan turun
anak itik pun berlarian ke kandang
Seusai hujan kita ke kedai
ada canai dan pizza, ada bulukat
dan secawan durian Samudra Pasee.
Thayeb Loh Angen
Bandar Aceh Darussalam, 5 Agustus 2020.Portalsatu.com
===============================
Puisi di atas merupakan karya terbaru Thayeb tentang gairah, cinta dan kehidupan. Tentu di bagian ini ia mengkhususkan pada sisi yang lebih pribadi.
Bila kita kembali ke latar belakang Thayeb sebagai mantan kombatan, sifat perlawanannya seakan hilang dalam bait bait puisi yang berjudul “Apabila Hujan Turun” tersebut.
Yang tampak justeru, kelembutan, penerimaan dan kesadaran:
//Kupandang wajah manja
kudengar canda
dari gadis penyeruput es krim mangga
Lagu lagu lambat syahdu sayup dan nyaring
pengiring kita di meja susun aksara//
Demikian ungkapnya di bait ketiga dan empat.
Dari segi sifat dan bentuk puisi, tentu mudah kita kenal bahwa ini termasuk puisi modern, tanpa mengikat diksi dengan utuh dan konstan. Walau pemilihan diksi itu tetap ada sebagai instrumen puitik, demikian halnya metafora, makna dan suasana.
Disini tampak suasana harap dan bahagia, syahdu, gembira dan rindu:
//apabila hujan turun
anak itik pun berlarian ke kandang//
//Seusai hujan kita ke kedai
ada canai dan pizza, ada bulukat
dan secawan durian Samudra Pasee//
Kita tidak tahu detilnya, apakah si penyair benar benar melihat anak itik saat itu, bisa saja ia melihatnya dalam gambar pikirnya, lalu menjadi simbol penguat suasana.
Adapun kata “canai”, “pizza”, “bulukat” dan “secawan durian Samudra Pasee”, mewakili zaman dimana ia berada, suatu leburan modernisme dan ketahanan dalam mempertahankan nilai lokal.
Namun yang perlu kita ingat baik adalah tentang harapan murni penyair dalam kalimat:
//tentang doa bersama kita
mawaddah wa rahmatNya//.
Puisi di atas dikategorikan sebagai puisi naratif, bercerita. Umumnya puisi naratif tidak membutuh selalu tentang “tafsir”, karena penuh dengan diksi yang umum. Tapi, sebagai hakikat puisi, diksi diksi itu tetap memiliki kemungkinan makna lain/baru.
Apakah puisi di atas dapat disebut puisi yang berhasil?. Berhasil dari segi apa dan menurut ukuran apa pula?
Secara praktis dan efisiensi, puisi di atas berhasil menjangkau rasa paham pembaca, pembaca dapat menikmatinya langsung tanpa berfikir dalam.
Sedang secara estetis, dapat juga disebut berhasil, setidaknya dalam memilih diksi penguat pesan, //…….sujud-tahajjud// ………. manja, canda dan mangga//….meja susun aksara//
Elemen estetis dan efisiensi dalam mencapai rasa paham pembaca sebagai bagian indikator keberhasilan sebuah puisi. Eyang Sapardi (alm) pernah berucap, tugas mulia seorang penyair adalah kemampuannya membangun idiom baru, daya ungkap baru dan makna baru.[]
*Pegiat Kajian Sastra.







