LHOKSEUMAWE – Aceh sedang dilanda demam “Bek Panik”, sebuah single hit yang didengungkan band Apache 13. Berkomposisikan Nazar Shah Alam (vokal), Ikram (perkusi), Amek (gitar), Teuku Munawar (lead gitar) dan Dharma Putra (Bass), band bergenre Folk ini ingin benar-benar  jadi band yang dicintai rakyat.

Saat menyambangi pos jurnalis Lhokseumawe di Abuwa Kupie, Sabtu sore, 8 April 2017 Nazar Cs yang ditemani manajemen Akmal M Roem bercerita singkat ihwal munculnya band yang bermarkas di Banda Aceh tersebut.

 “Pencetusnya adalah Ikram, tahun 2013 dulu kita berkumpul setelah bertemu saat sering mengamen, kemudian kami sepakat untuk menciptakan sebuah band Aceh yang berkarakter dengan memadukan berbagai latar belakang bermusik personil,” terang Nazar.

Nazar mengaku awalnya tidak punya latar belakang bermusik yang kental, hanya saja dia sering gabung dengan anak-anak musik dan mencintai musik, akhirnya ia  mencoba membuat lirik-lirik parodi yang menceritakan kehidupan sehari-hari generasi muda Aceh dan kearifan lokal Aceh secara umum.

“Saya pribadi adalah penulis, pembaca puisi dan penyair, sedangkan kawan-kawan ada yang bermusik  genre pop, rock, reggae bahkan  Dharma sebelumnya bergabung dengan  salah satu grup band metal. Namun karena ingin mencari warna baru akhirnya kita memilik Folk sebagai genre Apache 13. Kenapa nama Apache 13, sebenarnya tidak ada yang spesifik, karena Apache adalah suku yang keras di Amerika  dan tidak pernah berhasil dijajah,” tutur Nazar.

Pria kelahiran Aceh Barat Daya tersebut juga menjelaskan pilihan genre Folk sebagai jalur bermusik Apache tidak lain karena dirinya dan teman-teman ingin tidak sekedar bermusik, tapi lebih dari itu, Apache 13 harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh. Secara definisinya juga Folk adalah musik rakyat.

Hal itu tercermin dari sigle hit “Bek Panik” langsung menjadi perhatian saat dirilis pertama kali di Youtube beberapa waktu lalu, langsung menjadi perbincangan di kalangan netizen kemudian berambah ke masyarakat, apalagi frame klip juga digarap sangat sederhana tapi berkualitas, membuat masyarakat semakin penasaran.

Melihat animo masyarakat sangat tinggi, Akmal M Roem  sang manager yang saat itu masih berada di luar daerah memaksakan diri kembali ke Aceh untuk memotivasi Nazar dan teman-teman. Singkat cerita setelah menjalani berbagai proses rumit akhirnya album perdana Apache 13 berhasil dirilis pada Desember 2016.

Tetap dengan single “Bek Panik” ditambah 9 lagu kocak lainnya yang juga lengkap dengan klip menarik. Di antaranya  tembang Mona, Leumoh Anuek Muda dan Tak Tong-tong.  Hampir semuanya berkisah tentang kondisi sosial generasi muda Aceh dan itu menjadi ciri khas lirik ciptaan Nazar yang juga ikut dibantu oleh Zulfadli Kawom alias Syakawi pelaku seni asal Muara Batu, Aceh Utara.

Sampai saat ini  penjualan album tersebut sudah mencapai angka 40 ribu keping. Ditambah dengan jutaan viewer di akun Youtube resmi Apache 13. “Mereka adalah gerenasi muda musik Aceh yang berani melawan arus besar musik Aceh yang selama ini dikonotasikan  buruk dan penuh plagiasi,” terang Akmal.[]