Kita semakin asing dan tak berdaya
dalam himpitan global.
Sedang isu tinggal landas
yang dulu mashur
kini jadi lipatan kain yang lapuk.

Rezim berganti hanya modus kapital
dalam pola eksploitasi yang manis,
penuh lipstik dan nalar dangkal.

Orang orang telah memecah cermin kita
sebab kita sibuk membeli dan berhutang, lalu lemah memproduksi segala hal.
Alangkah sedih bila kita dipandang rimah (sisa makanan) dan hanya sebagai pasar atau sasaran empuk kebudayaan.

Karena itu kita tak bisa berbuat banyak
untuk saudara manapun yang tertindas: perundingan, dialog dan kecaman
hanya sebiji tahi mata bagi mereka yang superior.[]

Taufik Sentana
Banyak menulis puisi dan esai sosial.