Sekarang mari kita lihat dan dalami makna moral dalam ayat di atas, bahwa secara kontur, rumah laba laba memang amat lemah (Alquran menggunakan kata Auhan, “lebih hina”). Rumah laba laba hanya menempel seadanya, tanpa fondasi, tiang, atap dan unsur pelindung lainnya. Walau fakta kemampuan laba laba membuat rumahnya adalah ilham dari Allah, namun bentukan rumahnya adalah suatu yang sangat lemah. Disini Allah Menunjukkan keperkasaan dan kebjjaksanaanNya, bahwa setiap cipataan selalu ada hikmah di baliknya.
Ketika Allah menyinggung umat sebelum kita, (pada ayat 30), ini mengaitkan bahwa semua yang dibanggakan oleh mereka telah hancur, hilang dan sia sia. Lihatlah, bagaimana Qarun ditelan bumi, Firaun ditenggelamkan dan fisiknya dibiarkan selamat” hingga kini. Lihat pula bagaimana sebagian umat diterpa angin kencang berhari hari, ditelan banjir, dan sebagian ditimpakan dengan kepingan tanah dari atas mereka.
Hal itu disebabkan rapuhnya prinsip dan keimanan mereka dan meremehkan ajakan para RasulNya.Mereka menyangka bahwa, pengaruh, kedudukan, jabatan dan harta yang mereka kumpulkan dapat menyelematkan mereka. Padahal kekuatan mereka hanya selevel binatang kecil dengan rumahnya yang lemah. Itulah capaian peradaban dan cara mereka mengelola dunia, bagai laba laba yang membuat sarang, yang akan rusak kapan saja, tak bertahan lama.
Untuk itu, kitapun mesti menoleh ke diri personal kita, juga memerhatikan ikatan yang dibangun dalam keluarga kita, serta memerhatikan peradaban masyarakat yang sedang kita bangun: Apakah semua omong besar pembangunan dan kehebatan strategi pembangunan kita telah bersandar di atas fondasi yang kokoh? atau hanya menempel dan hanya tampak kuat di permukaan (citraan bangunan fisik)?
Di atas semua itu, saat kita tidak lagi saling menasihati dan memberi kontribusi sosial, para pembesar di setiap negeri akan membuat kerusakan, lalu Allah pun akan mengahcurkan tatanan negeri dengan sehancur-hancurnya (firmanNya dalam surat yang lain).[]



