Oleh Taufik Sentana*

Biasanya padanan kata  “Targhib” dan “Tarhib” disandingkan dengan Ramadan.
Adapun untuk kemudahan pengucapan bahasa media, sering digunakan kata “Tarhib” saja, sehingga memicu penyempitan dan pergeseran maknanya yang khusus.

Kegiatan targhib dan tarhib ini dilakukan menjelang tibanya Ramadan, sekitar seminggu atau sehari sebelumnya. Kegiatannya bervariasi, dari pawai, orasi publik, ceramah umum atau memanfaatkan jejaring medsos (siaran live) dengan ragam komunitas. Adapun tujuannya adalah untuk mengingatkan, menguatkan niat dan menagajak khalayak muslim tentang kedatangan Ramadan agar bersiap dengan rasa iman dan bahagia.

Belakangan ini tampaknya kata ” targhib” dan ” tarhib” telah tak sengaja dianggap publik memilki tujuan makna yang sama, padahal keduanya memiliki makna khusus. Yaitu, kata “Tarhib” lebih mendorong pada upaya mengingatkan perihal kewajiban dalam Ramadan, ancaman meninggalkannya dan dorongan amal ibadah yang mesti dikerjakan nantinya.

Sedangkan kata “Targhib” mengacu pada upaya menanamkan rasa suka dan gembira menyambut Ramadan serta menyampaikan  balasan baik yang akan diterima dengan amalan ibadah di dalamnya. Adapun secara metodologi komunikasi dan pendidikan Islam, sebaiknya kata “tarhgib” diletakkan sebelum kata ” tarhib”, menjadi Targhib dan Tarhib Ramadan. Karena targhib mengandunga makna gembira (maka itu mesti didahulukan) dan tarhib mengandung makna peringatan ataupun ancaman.

Demikianlah ulasan singkat tentang peleburan makna dan pergeseran pengertian dari kata ” targhib dan tarhib.[]

*Ikatan Dai Indonesia.Kab.Aceh Barat