DI BALIK kesuksesan seseorang, selalu ada sosok yang berperan dan berpengaruh besar dalam hidup orang tersebut. Sosok inilah yang kemudian menjadi inspirasi dan pondasi awal untuk menguatkan tekad dalam menapaki setapak demi setapak tangga kehidupan. Hingga akhirnya berujung pada kesuksesan.

Sosok itu bisa saja berasal dari orang-orang terdekat seperti keluarga atau kerabat. Tapi bisa juga berupa tokoh-tokoh besar yang menginspirasi. Hal yang sama dirasakan pula oleh Arief Fadillah, pria bersahaja nan humoris yang kini menduduki jabatan tertinggi di Dewan Perwakilan Rakyat Kota Banda Aceh. Di balik pencapaiannya itu, 'tersimpan' sekelumit kisah tentang pahit getirnya kehidupan seorang Arief Fadillah. Kisah yang selama ini hanya diketahui segelintir orang saja.

Jumat petang, 3 Maret 2017, Arif Fadillah menerima portalsatu.com di kediamannya di Gampông Emperom, Banda Aceh. Arief terlihat santai dengan setelan kaos hitam berkerah. Ia baru saja pulang dari kebun. Arief memang senang berkebun, aktivitas ini tetap ia lakukan di sela-sela sibuk dan padatnya jadwal sebagai politikus.

Ditemani sang istri tercinta, Supiyati. Pria kelahiran Medan, 10 Juli 1972 ini menceritakan sekelumit kisah hidupnya. Karir politiknya di parlemen Banda Aceh berawal dengan jabatan sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat pada periode 2009-2014. Di periode kedua ini ia berhasil menduduki posisi sebagai ketua. Baginya, apa yang ia dapatkan hari ini merupakan buah dari pahit manisnya kehidupan yang telah ia jalani. Buah dari konsistensi, ketekunan dan kesabaran.

“Jadi sebelumnya semua sektor pekerjaan sudah saya jalani, baik forman maupun non formal,” kata ayah empat putra putri ini. “Saya juga lama hidup di pasaran, tarik becak, buruh, dan pekerjaan lainnya,” ujar pria berdarah Bireuen dan Pidie Jaya ini.

Perjuangan kerasnya menantang kehidupan telah dimulai sejak ia berusia enam tahun. Arif kecil harus merasakan kehilangan kasih sayang dari seorang ayah karena ayah ibunya bercerai. Efeknya berimbas pada morat-maritnya perekonomian keluarga mereka.

“Ketika kami kecil, mamak saya dan bapak saya berpisah. Jadi mamak saya pontang-panting mencari kerja untuk dapat membesarkan anak-anaknya dengan segala kekuatan.”

Setelah orang tuanya berpisah, Arif dan empat saudaranya lantas tinggal bersama neneknya di Kuta Alam, Banda Aceh. Bersama saudara-saudaranya, Arief turun langsung membantu sang ibu mencari nafkah. Agar asap dapur bisa terus mengepul.

“Jadi kami hidup dengan nenek, kemudian mamak saya bekerja sebagi tukang cuci baju punya orang-orang. Kemudian selain mencuci baju, mamak saya menjual kue-kue untuk dititip di kedai-kedai,” ujar ayah dari Pilar Banda Aceh Fadillah, Maghfirah Pancari Fadillah, Arien Keumala Fadillah, dan Faisal Alam Fadillah ini.

“Jadi saya sewaktu kecil-kecil saya disuruh bangun pagi kemudian mengantarkan kue ke kedai-kedai orang,” tambahnya lagi.

Ketertarikannya pada dunia politik bukan hal baru bagi politikus Partai Demokrat ini. Sejak kecil ia sudah punya keinginan menjadi seorang Duta Besar.

“Bagi saya dunia politik adalah dunia saya itu. Sewaktu saya kecil dulu, waktu ditanya orang tua saya mau jadi apa saya bilang mau menjadi Duta Besar,” kata Arief terkenang pada masa kecilnya.

Mimpinya tersebut ternyata pernah disepelekan oleh orang-orang, apalagi melihat kehidupan keluarga mereka yang serba kekurangan, “jadi orang-orang bilang kalau mimpi saya itu terlalu besar,” tambah legislator yang memiliki hobi memancing, membaca, serta bermain catur ini.

Pendidikan politik baru ditekuni legislator ini setelah bergabung dan mendapatkan ilmu dari seorang tokoh salah satu partai politik nasional di Cirebon, kampung istrinya.

“Pada waktu di PAN itu saya tahun 1999. Pada waktu itu saya masih tinggal di Jawa Barat, di daerah Cirebon kampung istri saya. Saya juga pernah belajar dan mendapatkan pendidikan politik di Cirebon dari Amin Rais,” jelas Arief Fadillah.

Akan tetapi demi orang tua, sekitar tahun 2001 dia kemudian memilih meninggalkan PAN dan kembali ke Aceh. “Kemudian karena Aceh bergejolak konflik, saya teringat sama orang tua saya yang tinggal sendiri,” katanya lagi.

Sekembalinya ke kampung halaman dengan kondisi perekonomian Aceh yang hancur karena konflik, Arif Fadillah yang pada tahun 2002 tinggal bersama keluarganya di Kampung Emperom kemudian beralih profesi sebagai tukang becak.

“Beberapa sektor yang dulu menjadi profesi saya terpaksa saya hentikan sehingga saya beralih sampai menjadi tukang becak,” kata Arif yang pernah satu kelas dengan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal.

Selama berprofesi sebagai tukang becak yang sering mangkal di kawasan Pante Perak dan Peunayong, Arif Fadillah sering berjumpa dengan kawan-kawan lamanya. Dia bercerita, “Sewaktu menjadi tukang becak banyak teman-teman yang dulu pernah satu profesi dengan saya, saat itu tidak mengenal saya. Ntah mereka malu kalau melihat saya pada waktu itu hahahaha,” katanya sambil tertawa.

Arif Fadillah juga menceritakan pengalamannya saat berprofesi sebagai tukang becak. “Saya pernah mendapatkan penghasilan hanya Rp 10.000, dan istri saya harus menunggu setengah hari untuk dapat masak, karena menunggu ikan yang saya beli,” katanya.

“Bahkan kalau hari raya saya harus menarik becak dan tidak berkumpul dengan keluarga,” katanya lagi.

Meski berprofesi sebagai tukang becak, Arif Fadillah yang memahami manajamen organisasi kemudian mendirikan organisasi perkumpulan tukang becak. Dia pernah dipercaya sebagai ketua perkumpulan tersebut dan selama kepemimpinannya dia mencoba membangun hubungan dengan pihak Dinas Perhubungan kota.

Baru mencoba bangkit kembali secara perlahan pada tahun 2003, Arif kemudian kembali mendapatkan cobaan melalui peristiwa tsunami. Dia kehilangan harta dan juga orang yang sangat dicintainya.

“Sudah bangkit namun kemudian terkena tsunami. Tahun 2004 ya nol lagi, kembali ke nol lagi,” katanya. “Pada saat peristiwa tsunami, ibu yang merupakan orang yang sangat saya sayangi juga menjadi korban.”

Tsunami yang telah meluluhlantakkan Aceh, termasuk Kota Banda Aceh membuat Arif Fadillah beserta keluarganya harus mengungsi di tempat pengungsian yang disediakan oleh TVRI Banda Aceh. Di kamp pengungsian ini dia mengakui pernah dipercaya sebagai ketua barak dari pengungsi, “Alhamdulillah sudah mampu membangun sebuah kepercayaan dari masyarakat,” katanya.

Arif Fadillah mengkui bahwa peristiwa dan pengalaman yang pernah dijalaninya ternyata telah membentuk dirinya. “Alhamdulillah karena semua itu pristiwa tersebut membentuk kepribadian kita, membentuk solidaritas kita,” katanya.

Beberapa tahun setelah tsunami, pada tahun 2009, Arief Fadillah mencoba mencalonkan diri sebagai legislator untuk Kota Banda Aceh melalui Partai Demokrat pada pileg 2009. Legislator yang pernah mengenyam pendidikan di MIN Banda Aceh, MTsN Peunayong, dan STM Lampineung ini mendapat kepercayaan dari masyarakat.

“Alhamdulillah berkat dukungan semua segenap masyarakat, terutama yang sama-sama menderita tsunami pada waktu itu yang dialihkan ke pengungsian TVRI. Dukungan mereka itulah yang mampu mengantarkan saya menuju Dewan Perwakilan Rakyat Kota Banda Aceh periode awal 2009-2014,” kata Arif.

Sejak saat itu, karir politik dari legislator ini terus menanjak naik. Pada pileg 2014, Arif Fadillah kembali dipercaya untuk menjadi wakil rakyat di DPRK Banda Aceh. Bahkan dia dipercaya oleh para legislator lainnya untuk menjadi Ketua DPRK Banda Aceh periode 2014-2019.

Meskipun telah menjadi anggota legislatif Kota Banda Aceh, baginya itu bukanlah akhir dari segala pencapaian. Ia tetap memperhatikan pendidikan. Tahun 2009 ia melanjutkan pendidikan di Ilmu Komunikasi Politik Universitas Iskandar Muda. Tahun 2014, ia meraih gelar S2 dari Magister Manajemen Unsyiah. Tahun ini ia berencana melanjutkan pendidikan S3.

“Saya khususnya pernah mengalami kehidupan yang susah sehingga saya tahu betapa pentingnya pendidikan. Dasar pendidikan merupakan satu hal yang sangat vital sekali untuk masa depan, jadi saya niatkan Insya Allah rencana nanti dalam tahun 2017 ini akan mengambil jenjang S3 di Unsyiah lagi,” ujarnya.

Keberhasilan yang diraih olehnya saat ini tidak terlepas dari sosok yang memberikan inspirasi bagi dirinya, yaitu sang ibu.

Hal inilah yang tanpa disadari telah memupuk kemandirian dan kedisplinan pada diri Fadillah sejak kecil. ”Ketika saya kecil saya banyak belajar sama orang tua saya. Mamak sayalah yang membentuk watak serta kepribadian saya seperti ini,” kata Arif.

Perjalanan kehidupan yang pernah dialaminya dalam serba kekurangan, ternyata tidak membuatnya berharap kepada orang lain untuk dapat meraih apa yang diinginkan. Dan ini merupakan pesan yang sering disampaikan oleh ibunya ketika ia kecil.

“Tetapi alhamdulillah saya mampu untuk mengikuti ajaran didikan orang tua saya yang menerapkan kejujuran nomor satu dan kesetiakawanan nomor dua, didasari dengan agama yang lumayan,” katanya.

“Tidak ada harapan maupun cita-cita itu digantungkan ke orang lain, diharapkan ke orang lain. Orang tua saya tidak mengajarkan seperti itu, sehingga kami terbiasa hidup dengan apa adanya dan kami dididik walaupun dengan tidak memiliki apa-apa, tetapi kami selalu dididik untuk tidak gagal dalam mengejar semua cita-cita kami,” katanya lagi.

Namun, satu hal yang membuat ia sering dilanda gundah. Sang ibunda tidak sempat menyaksikan kesuksesan yang telah ia dapatkan.

“Alhamdulillah semua itu dapat kita jalani dan itu ikut membentuk kepribadian kami sehingga jadinya seperti sekarang ini. Tetapi sangat disayangkan, ketika ibu saya tidak dapat merasakan kesuksesan yang telah saya raih,” kata Arif Fadillah dengan matanya yang berkaca-kaca.

Tiga puluh menit berlalu, obrolan hangat sore itupun harus berakhir. Petang mulai rembang. Saya berpamitan, diantar oleh senyum hangat Arif Fadillah.[]