Oleh: Taufik Sentana*
Pada mulanya ia adalah kibaran
harapan dan perjuangan. Kibaran bendera itu menyimpan asa, sejarah, perekat dan simbol dalam kalah atau menang.
Dalam perjalanan kita kemudian
amanah bendera yang berkibar itu
hanya menjadi ritual tahunan dan saat agenda tertentu: asa, makna dan peristiwa perjuangan kita mengendap dalam individualisme, kapital dan kepentingan.
Nasionalisme seperti slogan tanpa konsolidasi, solidaritas kita terbelah-belah dalam banyak kancah dan terkavling dalam perseteruan global.
Saat ini,
apakah kita hanya duduk dan menyaksikan kibaran bendera itu bersama angin? :Di bawah bendera itu, kemiskinan, kebodohan dan keapatisan menggerogoti tiangnya.[]
*penyuka sastra dan literasi sosial



