Bagi si perindu, malam adalah pencarian terjauh. Tanah hitam yang bercampur harapan. Dan tempat bersembunyi semua kenangan.
Si perindu tidak menjadikan malam bagai milik pengantin, sebab sulaman malam lebih indah dari sekadar pertemuan dua kekasih. Malam telah menambat segala rahasia, dibungkus sepi dan pasrah yang putih.
Malam yang berganti hanya jejak pencarian diri, yang akan terus berulang. Kesadaran akan menjadi benih cahaya yang setia menyusur ke ujung perjanjian abadi.
Suara Pagi
ialah embun yang mengendap
bersama lelah kemarin.
ia merambat dan menyusup
ke bilik bilik daun sambil menanti
sinar yang menari dalam jeda bahagia
hari ini.[]
Taufik Sentana
Dalam “Rindu rindu Yang Berguguran” 1440 H.



