BANDA ACEH – Pengamat politik, Aryos Nivada meniilai manuver politik yang dilancarkan kader atau elite Partai Nasional Aceh semakin membuat PNA terjebak dalam pusaran masalah terlalu dalam.

Aryos Nivada menyampaikan itu menyikapi kisruh di tubuh PNA saat ini. Menurut dia, pernyataan Sekjen DPP PNA Muharam Idris dan beberapa ketua DPW PNA kepada media massa bahwa mereka tidak mendukung Irwandi Yusuf sebagai kandidat gubernur Aceh, seharusnya terjadi setelah pembahasan di internal partainya terlebih dahulu. Sehingga, kata dia, publik memiliki informasi utuh tentang dinamika tersebut.

“Berbalas pantun antarelite PNA tidak akan menumbuhkan simpati, bahkan berpotensi menjauhkan sosok dan PNA itu sendiri dari proses politik,” kata Aryos melalui keterangan tertulis diterima portalsatu.com, Sabtu, 13 Februari 2016.

Aryos menyebut mandeknya komunikasi dalam mencari titik temu kesepakatan di internal PNA menyikapi pilkada 2017, seharusnya tidaklah diumbar ke publik. Seharusnya, kata dia, mekanisme internal dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi PNA. Kata dia, soliditas dan konsolidasi menjadi syarat utama bagi partai politik untuk mampu mewarnai di pilkada 2017.

Jika PNA tidak mampu mewujudkan hal itu, kata Aryos, maka nilai tawar secara politik akan semakin lemah di mata partai lain. “Sekali lagi jangan sampai PNA sebagai sebuah partai yang memiliki kursi di parlemen bisa terpuruk ketika soliditas dan kesepakatan internal belum selesai diterima secara bersama dan penuh tanggung jawab di internal mereka,” ujar Peneliti Jaringan Survey Inisiatif ini.

Aryos melihat PNA sebuah partai yang masih terjebak pada pengaruh sosok yang memengaruhi internalnya. Terlalu dominan pengaruh sosok akan cenderung membuat partai tidak sehat secara kepartaian dan demokratis. Penting pengaruh sosok, kata dia, ketika ditempatkan pada kepentingan kepartaian yang lebih besar, tidak hanya sebatas kepentingan pribadi.

“Logika politik, ketika terlalu banyak manuver politik yang dilakukan kader atau elite-PNA semakin membuat PNA terjebak dalam pusaran masalah terlalu dalam. Semoga PNA tidak terisolasi dari proses politik dan demokrasi di Aceh akibat permasalahan internal, walaupun itu sebuah dinamika yang wajar. Terlalu sering, tidak wajar juga di mata publik dan konstituennya,” kata Aryos.[] (idg)