Sabtu, Juli 20, 2024

Peringati Haul Abati Banda...

LHOKSEUMAWE - Ratusan jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi'i Aceh menggelar pawai akbar dalam...

Pj. Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyerahkan bantuan masa panik secara simbolis...

Sekum PB PON Wilayah...

BANDA ACEH – Progres pembangunan beberapa venue untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI...

PT PIM Bantu Korban...

ACEH UTARA - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) menyerahkan bantuan kepada korban badai...
BerandaNewsDuniaAS: Pekan Ini,...

AS: Pekan Ini, Pembantaian di Uyghur Dibicarakan dengan China

WASHINGTON – Negara Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa pembantaian Uighur di wilayah otonom Xinjiang barat laut China akan menjadi salah satu masalah yang dibahas oleh para diplomat AS dan China minggu depan.

“Saya tahu bahwa menangani genosida terhadap Muslim Uyghur adalah sesuatu yang akan menjadi topik diskusi langsung dengan China minggu depan,” Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki mengatakan pada konferensi pers, sebagaimana disiarkan kantor berita Turki, Anadolu Agency.

“Posisi Amerika Serikat yang pasti adalah bahwa apa yang terjadi adalah genosida, dan kami akan mencari peluang untuk bekerja dengan mitra lain untuk memberikan tekanan tambahan pada China.

“Tapi kami juga akan angkat secara langsung dan akan menjadi topik pembahasan minggu depan,” imbuhnya.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan akan bertemu dengan Direktur Kantor Komisi Pusat Luar Negeri China Yang Jiechi dan Anggota Dewan Negara Wang Yi pada 18 Maret di Alaska.

Pada hari Selasa, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Ned Price mengatakan AS belum mengubah penilaiannya bahwa ada genosida terhadap Muslim Uyghur dan etnis minoritas lainnya di Xinjiang.

Ketika ditanya apakah genosida sedang berlangsung, Price menjawab: “Kami tidak melihat apa pun yang akan mengubah penilaian kami.”

Wilayah Xinjiang adalah rumah bagi sekira 10 juta orang Uighur. Kelompok Muslim Turki, yang membentuk sekitar 45% dari populasi Xinjiang, telah lama menuduh otoritas China melakukan diskriminasi budaya, agama dan ekonomi.

Hingga 1 juta orang, atau sekitar 7% dari populasi Muslim di Xinjiang, telah ditahan dalam jaringan kamp “pendidikan ulang politik” yang meluas, menurut pejabat AS dan pakar PBB.[]

Baca juga: