Bila kita menganggap bangsa sebagai ikatan komunal yang terstruktur dan saling terikat oleh ikatan yang diyakini bersama, maka selayaknya bangsa adalah bagaikan pribadi kita. Pribadi yang tumbuh, berkembang dan meninggalkan jejak pemuh manfaat. Untuk itu pula, watak pembelajar mesti teraplikasi dalam sistem sosial kita.
Dalam.skala yang besar, watak pembelajar itu dapat merespon setiap kondisi dan peristiwa menjadi makna perbaikan dan kemajuan. Kemapuan ini mesti tampak dalam layanan publik dan tata kelola pemerintahan. Sehingga visi berbangsa kita dapat diukur secara bersama dan penuh rasa percaya.
Namun faktanya, kifa masih menjumpai tumpang-tindih kebijakan dan kepentingan. Perseteruan elit, permainan politik dan dominasi pemikik modal. Hingga yang tampak hanya seperti tambal-sulam dan atas nama proyek.belaka. Poin ini masih banyak kita jumpai dalam program publik yang dipaksakan realisasinya (diakali) di akhir tahun. Banyak pula proyek dan program yang pupus di tengah jalan atau tak memenuhi standar kelayakan, diantaranya karena banyaknya setoran dari meja ke meja (sudah rahasia umum).
Imbas dari pola kelemahan kita sebagai bangsa pembelajar adalah, misalnya, betapa rancu dan geroginya kita mengelola pendidikan nasional. Dimana sejatinya, domain ini menjadi prioritas yang istimewa, karena menjadi ladang pacu perbaikan sosial kita secara utuh. Sedangkan yang terjadi adalah kesimpang siuran kurikuler, kesenjanagan lulusan dengan realita sosialnya dan sikap profesi atau kemandirian kerja.
Domain pendidikan di atas hanya sebagai kasus kecil dimana kita mesti menjadi bangsa yang sigap menyelesaikan problem, apalagi di era industri 4.0, mau kemana kita?
Contoh ” kecil” lainnya adalah, bagaimana kita mengelola hutan kita, yang dipuja sebagai Paru paru dunia. Tapi faktanya, saban tahun kita selalu bermasalah dengan asap, kebakaran hutan dan penebangan liar. Apakah ini tidak mengindikasikan seberapa rendah level kita sebagai bangsa yang dapat “BELAJAR” dengan baik? Dan bila kita anggap ” asap” itu sebagai polutan dan hal menyesakkan, berapa banyak hal yang menyesakkan di masyarakat berbangsa kita yang perlu penyelesaian segera dan tuntas?[]
Taufik Sentana
Praktisi pendidikan Islam. Bergiat sejak 1996.



