SUBULUSSALAM – Ketua Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Kota Subulussalam Ustad Maksum, meminta masyarakat agar tidak mengkait-kaitkan antara fenomena Gerhana Matahari Total dengan berbagai mitos yang berkembang di masyarakat. Mempercayai hal itu menurutnya bisa menjerumus pada perbuatan syirik.

Ada mitos yang berkembang di masyarakat katanya seperti jika terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, maka wanita hamil harus mandi kembang agar bayinya tidak terjadi kelainan saat lahir nanti.

“Perbuatan itu tidak dibenarkan. Jika kita mempercayainya, maka sama saja dengan berbuat syirik atau menyekutukan Allah. Sebab, agama tidak mengajarkan hal seperti itu, justru agama menganjurkan ummatnya untuk melaksanakan salah sunnah kusuf atau khusuf dan mengucapkan takbir, zikir, tahlil, tahmid, dan sedekah,” kata Ustad Maksum kepada portalsatu.com, Rabu, 9 Maret 2016.

Ia mengimbau masyaraat agar melaksanakan salat sunat gerhana di masjid atau musala saat peristiwa alam itu terjadi. Dengan demikian masyarakat tidak lagi melaksanakan mitos-mitos tersebut.

“GMT itu kan merupakan kekuasaan Allah yang Mahadahsyat, semestinya kita sebagai makhluk-Nya sadar akan kekuasaan-Nya itu sehingga mendapatkan rahmat, berkah, dan ampunan-Nya,” katanya.

Jika masyarakat lebih percaya kepada mitos, tegas Maksum, maka semua yng dilakukan bukannya mendapatkan pahala melainkan azab Allah yang sagat perih. Meenurutnya, perbuatan musyrik itu merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni Allah.

Hal ini pun, lanjutnya, pernah terjadi di zaman Rasulullah saw di hari yang sama dengan wafatnya putra beliau, Ibrahim. Saat itu, banyak yang mengira bahwa gerhana tersebut berkaitan dengan wafatnya putra Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pun mengajarkan amalan-amalan yang dianjurkan saat terjadinya gerhana dan meluruskan pandangan masyarakat bahwa gerhana tidak berhubungan dengan kelahiran atau pun kematian seseorang.[](ihn)

Laporan Wahda di Subulussalam