DRAMA romantis yang sederhana, Ayat Ayat Cinta 2, baru saja dirilis. Cinema XXI, di Manhattan, Medan, adalah salah satu tempat film ini diputar. Pukul 18:10, 22 Desember 2017, adalah jadwal yang kami pilih untuk menontonnya. 

Sebenarnya, itu waktu yang kami punya untuk nonton film Indonesia di sana, dan saat itu jadwal Ayat Ayat Cinta 2. Tiket Rp 40 ribu per orang.

Sebelumnya kami sibuk mencari cari alamat loket bus Anugerah, armada yang jarang kami naiki. Dan nonton film di bioskop Cinema XXI Manhattan, baru kali ini kami lakukan, sebelumnya di Thamrin Plaza. 

Daripada Thamrin Plaza, aku lebih suka Manhattan karena lebih luas, juga rendah saat itu. Bioskop di lantai tiga, teratas. Sementara di Thamrin, bioskop di lantai tujuh, teratas. Namun ke depan, mungkin di Manhattan akan tinggi juga sebab terlihat ada penambahan lantai di atasnya. 

Setelah melintasi jalanan padat belasan meter, terlihat loket bus Anugerah. Itu mengejutkan karena tempatnya persis di sisi Manhattan, sebuah pusat perbelanjaan modern.

Sebelumnya kami sudah bertanya tanya, apakah cukup waktu antara tunggu bus berangkat dan nonton film karena jarak menjadi masalah pada jam padat arus lalu lintas. 

Baik, cukup tentang bangunan dan tempat itu. Kita bicara film Ayat Ayat Cinta 2 sekarang.

Aku tidak membaca novel Ayat Ayat Cinta 2, kalau yang pertama ada, tapi tidak kunonton filmnya. 

Di awal film, kulihat pemeran utama laki laki, tidak mencapai ekspresi sebagai tokoh hebat dalam cerita. Kalaupun ingin dimunculkan tokoh lugu, bukan seperti itu juga. 

Aku tidak tahu, apakah yang aktor kurang bisa akting atau sutradara yang tidak bisa mengrahkannya. Atau produsernya yang terlalu hemat. Atau memang skenarionya yang kurang matang.

Di sepanjang film, di beberapa tempat, sempat membuatku tidak suka. Cerita film ini tidak lengkap, ada bagian yang terputus, dan saat dijelaskan dalam percakapanpun tidak sampai. Ini drama yang sederhana hampir sama dengan sinetron bersambung di televisi swasta Indonesia. 

Belum cerdas juga orang Indonesia bikin film. Begitu pikiranku. Bagaimana kita bisa cinta produk dalam negeri, kalau mutunya masih rendah.

Walaupun demikian, di beberapa tempat, misalnya islampobia sempat membuatku geram dan keluar airmata karena akting pemainnya, tapi itu tidak bisa menutupi kekurangan film itu di sekujur tubuhnya.

Debat ilmiah, misalnya. Itu hanya dihadiri beberapa orang di ruangan kecil, fasilitas sedikit. Produsernya terlalu hemat, atau takut mengeluarkan uang yang memadai. Akting perkelahian di sesi hampir akhir juga tidak mencapai action, masih drama. Ini film yang buruk jika dibandingkan dengan betapa besarnya itu dieluelukan oleh promotor.

Tentang mengampanyekan Islam damai, meluruskan islampobia, film ini bagus. Film dakwah. Walaupun, masih sebatas drama, tidak bisa membuat itu seakan nyata sebagaimana Hollywood.

Walaupun disebutkan film ini berbahasa Indonesia, tetapi di dalamnya ada bahasa Inggris. Itu merupakan campuran yang buruk untuk sebuah film. Kalau bahasa Inggris, bahasa Inggris semua. Kalau bahasa Indonesia, maka bahasa Indonesia semua. Begitu seharusnya.

“Ini drama romantis yang sederhana.” Itulah kesanku setelah menontonnya.

Sebagaimana diketahui, menurut wikipedia.org, Drama Romantis Ayat-Ayat Cinta 2 merupakan film drama Indonesia yang dibuat di Kota Medan, Sumatera Utara, dirilis pada tanggal 21 Desember 2017 di Cinemaxx dan pada 11 Januari 2018 di Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Film ini disutradarai oleh Guntur Soehardjanto, yang sebelumnya pernah meraih sembilan penghargaan dalam Festival Film Indonesia 2005 berkat film televisi Juli di Bulan Juni. Film ini adalah film kedua Ayat Ayat Cinta yang menuai sukses pada 2008 silam.

Ayat-Ayat Cinta 2
Sutradara Guntur Soehardjanto
Produser: Manoj Punjabi, Dhamoo Punjabi
Skenario Alim Sudio, Ifan Ismail, berdasarkan Ayat Ayat Cinta 2 
oleh Habiburrahman El Shirazy
Pemeran
Fedi Nuril, Tatjana Saphira, Chelsea Islan, Dewi Sandra, Nur Fazura, Pandji, Pragiwaksono, Arie Untung, Bront Palarae, Dewi Irawan, Cole Gribble, Mathias, Muchus, Millane Fernandez, Nino Fernandez, Dian Nitami, Melayu Nicole Hall, Jihane Almira, Syifa Hadju.
Musik Tya Subiakto
Penyunting Cesa David Luckmansyah
Perusahaan produksi MD Pictures
Tanggal rilis
Medan, 21 Desember 2017
Brunei 11 Januari 2018
Durasi 2-jam 5-menit
Bahasa Bahasa Indonesia.[]