Oleh Taufik Sentana*
Bukan rahasia lagi bahwa menulis telah menjadi simbol budaya dan peradaban. Dengan menulis seakan kita terhubung dengan tiga dimensi waktu, kemarin, hari ini dan esok. Dalam Alquran ada disebutkan bahwa “Allah Bersumpah dengan Pena”, yang menandakan betapa berdampaknya suatu tulisan. Apalagi tulisan yang ditujukan untuk kebaikan kemanusiaan secara umum.
Sebagai terapi?
Belum ada memang rekom dokter yang sempat penulis telusuri. Akan tetapi, beberapa psikolog banyak yang menyebutkan bahwa menulis dapat dijadikan medium terapi. Walau demikian, hampir semua sepakat bahwa dengan menulis topik tertentu yang menyenangkan dapat memberi efek positif pada diri si penulis. Efek tersebut akan memengaruhi sistem pikir si penulis, sistem imunnya dan sistem metabolisemenya secara umum.
Hal itu terjadi karena menulis memerlukan rangkaian kerja yang lumayan “rumit”. Baik secara kognitif, emosional dan fisik. Ketiga kata itu merangkum makna konsentrasi, kesabaran, penerimaan diri, keyakinan, sugesti, energi positif, daya tahan, dst., (ini tidak bertentangan dengan pengetahuan ilmiah).
Bekerjanya semua variabel tadi diasumsikan dapat menjadi treatment terapi (minimal mempercepat proses “sembuh”).
Jenis penyakit/gejala apa saja yang berpeluang menggunakan terapi menulis? Jawabannya: hampir untuk semua penyakit dan gejala, selama kegiatan tersebut dilakukan secara terstruktur,(termasuk memerhatikan isi yang ditulis), penuh niat yang sungguh-sungguh, waktu dan dukungan moril serta sarananya. Ingatlah Sabda Nabi bahwa Allah dalam sangka hamba-Nya.
Di antara kasus yang baik dalam hal ini adalah, lahirnya buku novel Habibi Ainun. Di mana sebelumnya, Pak Habibi, dihadapkan pada tiga pilihan: ketergantungan obat untuk bertahan, ganguan mental akut, atau menulis. Akhirnya, ia menjalani program menulis yang kiranya berdampak pada proses sembuhnya, terutama sembuh dari trauma kehilangan orang yang dicinta.
Untuk anak dan siswa bisa diterapkan bagi mereka yang dianggap kelewat aktif, berpotensi bermasalah dsb. Dengan memerhatikan kecepatan dan bentuk tulisannya juga baik.
Bagi yang berpenyakit khusus atau gejala tetentu, bisa memilih untuk menulis dengan bebas, berisi pengalaman, pandangan baik atau buruk, ditulis tanpa dihakimi, atau bakar hasil tulisan itu bila sangat rahasia, misalnya.
Dalam pendekatan ini bisa menggunakan konsep afirmasi (kata-kata penguatan diri, seperti “Alllah akan menyembuhkan” dst.) dan sugesti. Teruslah dengan mengembangkan kalimat-kalimat yang menyembuhkan dan kalimat-kalimat mewakili perasaan terdalam serta harapan-harapan yang terbesit dalam hati. Termasuk luapan dendam, benci, ketidak-relaan, dsb.
Kegiatan di atas dapat dicoba setidaknya 30 hari hingga 90 hari. Syukur, bila malah jadi buku dari hasil kegiatan terapi tersebut.
Demikianlah, semua ada penyembuhnya, kecuali kematian, begitu Sabda Nabi kita.
Insyaa Allah, selamat mencoba.[]
*Taufik Sentana
Konsultan SDM, Guru dan Mengelola Program Menulis dari Forum Literasi Indonesia.






