KAWASAN wisata Sabang memang sudah membumi. Kondisi ini mesti disikapi Pemerintah Aceh dan Pemko Sabang dengan mengembangkan sumber daya manusia dan meningkatkan infrastruktur. Ketika pariwisata Pulau Weh semakin wah, pastinya akan menambah kontribusi untuk pertumbuhan ekonomi Aceh.
Pentingnya pengembangan kawasan wisata Sabang turut menjadi rekomendasi Bank Indonesia (BI). Dalam hasil Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Aceh Agustus 2016, yang diperoleh portalsatu.com, belum lama ini, BI membuat box khusus dengan judul Pengembangan Sabang sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Aceh.
BI menjelaskan, sektor perdagangan mampu memberikan kontribusi 0,62 persen terhadap perekonomian Aceh dengan pertumbuhan sebesar 3,88 persen (year on year/yoy) pada triwulan II-2016, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Aceh yang sebesar 3,54 persen (yoy).
Peningkatan kinerja pertumbuhan ekonomi di sektor perdagangan dan jasa akomodasi di Aceh tidak dapat terpisahkan dari kontribusi kondisi pariwisata di Aceh yang menarik para wisatawan untuk melakukan transaksi ekonomi di Aceh, tulis BI.
BI menyebut berbagai potensi wisata di Aceh, baik yang belum maupun sudah akrab di telinga para wisatawan sangatlah potensial untuk mendukung sektor pariwisata di provinsi ini. Jenis-jenis wisata tersebut bervariasi dari wisata bahari, pegunungan, budaya, hingga wisata kuliner.
Salah satu objek wisata sangat terkenal dan paling besar kontribusi pariwisatanya di Aceh ialah kawasan wisata Sabang. Meskipun sudah cukup terkenal di telinga para wisatawan baik domestik maupun mancanegara, kawasan ini masih memiliki berbagai potensi wisata yang dapat untuk dikembangkan.
Kawasan Sabang merupakan daerah paling ujung barat Indonesia. Pemerintah Aceh menjadikan Sabang sebagai andalan utama destinasi wisata di provinsi ini, khususnya wisata bahari/maritim. Pada tahun 2016 Sabang telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPD) dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, tulis BI.
Menurut BI, sebagai salah satu destinasi wisata paling utama dan strategis di Provinsi Aceh, sektor pariwisata di Sabang telah memberikan kontribusi hampir 70 persen terhadap perekonomian di Kota Sabang. Sampai tahun 2015, tercatat sebanyak 620.000 lebih wisatawan domestik dan lebih dari 5.500 wisatawan asing berkunjung ke Sabang.
Dari para wisatawan tersebut tercatat rata-rata pengeluaran para turis berkisar antara Rp1.100.000/hari. Angka tersebut diproyeksikan akan terus mengalami peningkatan seiring dengan ditemukannya beberapa objek wisata baru di kawasan tersebut serta dengan adanya proses perbaikan dan renovasi berbagai icon Sabang, tulis BI.
Renovasi icon utama Sabang, yakni Tugu Nol Kilometer Indonesia tersebut menggunakan dana APBN senilai Rp6 miliar dan telah mencapai 50 persen hingga saat ini. Kegiatan pembangunan dan renovasi tersebut ditargetkan selesai pada 2017.
Di samping itu, BI melanjutkan, telah dibangun juga proyek The Sabang Hotel yang merupakan hotel berbintang lima pertama di Sabang telah dimulai sejak tahun 2015. Sampai saat ini, progress dari pembangunan hotel tersebut telah berada dalam proses pembebasan lahan dan ditargetkan akan dapat beroperasi tahun 2017.
Namun demikian, di tengah berbagai proyek yang sedang dilaksanakan tersebut, sejumlah kendala dan tantangan di sektor infrastruktur dan sumber daya manusia masih menjadi tantangan utama yang dihadapi potensi pariwisata di kawasan Sabang.
Berikut beberapa hal, menurut BI, yang menjadi kendala serta tantangan yang dapat menjadi fokus perhatian bagi berbagai pihak dalam mengembangkan pariwisata Sabang:
SDM: Sumber daya manusia yang ada belum memiliki keahlian di bidang pelayanan jasa, khususnya yang terkait dengan jasa akomodasi, tour guide, layanan transportasi, dan jasa kuliner. Belum adanya sekolah perhotelan atau pariwisata
OBJEK WISATA: Masih mengandalkan wisata alam, belum banyak alternatif wisata lain. Kebersihan masih kurang terjaga. Kurang terawatnya objek wisata. Belum adanya objek wisata yang memperkenalkan budaya tradisional setempat.
INFRASTRUKTUR: Fasilitas MCK masih kurang, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Kurangnya jumlah transportasi umum menuju objek wisata. Jadwal pesawat/kapal dirasakan masih belum sesuai dengan kebutuhan wisatawan.
LAINNYA: Jumlah objek wisata unggulan masih relatif sedikit dibandingkan daerah wisata lainnya. Minimnya jumlah kamar dan penginapan. Belum adanya hotel berbintang. Koordinasi antara warga, pengelola, dan pemerintah masih terasa kurang.
BI menjelaskan, dalam mengatasi berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi dalam sektor pariwisata tersebut, pemerintah baik pemerintah kota maupun pemerintah provinsi bersama-sama telah mencanangkan berbagai program yang sudah dan masih terus dilaksanakan. Beberapa program tersebut antara lain berkaitan dengan kendala yang terkait dengan sumber daya manusia dan infrastruktur:
SDM: Pendirian dan optimalisasi Koperasi Wisata (Binaan Dinas Pariwisata). Mengadakan pelatihan secara berkala terkait dengan tema hospitality, kuliner, tour guide. Menggalakkan gerakan Masyarakat Sadar Wisata melalui pelaksanaan berbagai event (Sabang Sail, Sabang Marine Festival, dll.). Menerapkan sanksi berupa denda Rp10.000 bagi masyarakat yang dengan sengaja membuang sampah di tempat wisata, khususnya di daerah wisata Iboih.
INFRASTRUKTUR dan sarana dan prasarana pendukung: Renovasi Total Tugu Nol Kilometer beserta prasarana umum (selesai tahun 2017). Pelebaran jalan menuju Tugu Nol Kilometer (tahap perundingan terkait dengan pembebasan lahan). Pembangunan Hotel Bintang 5 di Aceh (pembebasan lahan telah selesai dan pembangunan dimulai tahun 2017). Pembangunan sarana MCK di tempat-tempat wisata utama (Pantai Iboih dan Tugu Nol Kilometer).
Berikutnya, memprioritaskan penambahan objek wisata alam dan heritage potensial yang menjadi prioritas, yakni: Wisata Goa Sarang, Wisata Historis Benteng Kolonial, Wisata historis bangunan rumah sakit bawah tanah. Pembangunan jalan alternatif menuju KM Nol Lhong Angen sepanjang 9.500 meter. Perubahan dan penyesuaian jadwal pesawat dari dan menuju Sabang dari Bandara Internasional Kuala Namu agar lebih banyak penerbangan yang terkoneksi.
Menurut BI, adanya perbaikan maupun pembangunan di sisi infrastruktur berbagai objek wisata di Sabang diyakini dapat membantu menarik wisatawan baru, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun demikian, pembangunan infrastruktur tersebut harus dibarengi dengan perencanaan setelah selesainya pembangunan tersebut, baik dari sisi pemeliharaan, keamanan, kenyamanan, serta estetika.
Seringkali permasalahan yang muncul adalah adanya pembangunan infrastruktur, tetapi tidak ada tindak lanjut upaya pemeliharaannya agar berdampak secara lebih berkesinambungan, tulis BI.
Sementara itu, dengan adanya usaha pengembangan sumber daya manusia (SDM), diharapkan pelayanan wisata terhadap para wisatawan akan semakin membaik (terwujudnya budaya service excellence) bagi para wisatawan yang datang, sehingga akan memberikan kesan baik bagi para wisatawan untuk datang kembali ke lokasi itu.
Di samping itu, BI menambahkan, adanya perbaikan dan pemeliharaan SDM ini juga dapat memberikan peluang akan munculnya ruang bagi wisata baru, yakni wisata budaya. Salah satunya dalam bentuk budaya atraksi, kerajinan tradisional, serta berbagai kearifan lokal yang menarik para wisatawan.
Kemunculan alternatif wisata-wisata tersebut tentu dapat terwujud dari SDM-SDM yang sudah siap, sehingga giat pariwisata di lokasi tersebut semakin berkembang, demikian BI.[](idg)







