Prof. Dr. H. Syamsul Rijal Sys., BA, M.Ag

Dalam konteks terkini kehadiran ramadhan massage menjadi tema pembicaraan  umat dalam berbagai media khususnya media sosial. Mereka bicara perihal ramadhan, butir hikmah didalamnya, amal ibadah yang sejatinya ditunaikan sampai dengan prilaku menyimpang yang massive terjadi yang dapat merusak tatanan ibadah itu sendiri. 
apresiasi sederhana terlihat ucapan “marhaban ya ramadhan” diiringi dengan ragam kosa kata, seperti; bulan pengampunan, bulan ladang amal diakhiri maaf lahir batin dan selamat beribadah dan jenis pesanannya. 
Dari ragam paradigmatik yang melukiskan spirit religiusitas setiap insan ada tiga hal pokok yang mendasar dan mendesak untuk dipahami serta ditransformasikan dalam subtansi ibadah yang dilakoni. 
Pertama, tafakkur yaitu lakukan pengenalan diri kita lebih dekat untuk mempersiapkan diri menjalani rutinitas serangkaian ibadah di bulan ramadhan. Lakukanlah tafakkur ramadhan dengan seksama disana kita temukan posisi diri untuk lebih khusyuk dan tawadhuk mendekatkan diri kepada Allah karena telah dibintangi  dengan sikap pengenalan diri sebagai apa dan untuk apa kita hadir. 
Kedua, tadabbur, tadabbur ramadhan bagaimana kita membuka hari dan pikiran mengenal segala bentuk eksistensi lingkungan di luar diri kita. Jadikanlah persetujuan spirit dengan dunia luar sama ada bersifat subtansi material maupun interaksi simbolik dan interaksi pengenalan jati diri menjadi pemicu untuk meningkatkan kualitas ibadah. Tadabbur membuka mata hati dengan entitas sosio-religi akan membangkitkan semangat beribadah, temukan dan rasakanlah.
Ketiga, tasyakkur, jadikanlah transformasi nilai ibadah ramadhan menjadi pribadi yang bersyukur merasakan keikhlasan amal dalam beribadah. Pribadi yang penuh syukur dan ikhlas adalah potret sosok personalitas yang mendapatkan redha  Allah dalam kita beribadah.
Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan menuju atmosfir redhaNya.[]