Oleh: Taufik Sentana

Menjadi bahagia merupakan bagian terbesar dari pencarian diri anak manusia. Baik itu untuk bahagia nisbi dan majazi atau untuk mencapai bahagia hakiki. Beragam jalan yang ditempuh manusia, yang menyangka bahagianya hanya murni pencariannya dan berwujud fisik semata: sehingga melepaskan ajaran samawi dan terperangkap dalam falsafah bahagia yang dirangkum oleh akal dan konsep bendawi.

Karena kebahagiaan menyangkut rasa, maka hanya ketenangan dan penerimaan/ridha yang menjadi pemantik utamanya. Sejauh apapun capaian materil tak akan sampai ke rasa bahagia bila tanpa sikap di atas. Menjadi bahagia adalah proses dari waktu ke waktu dengan beragam dinamika, problem, tanggung jawab dan ketaatan.

Sebagai seorang muslim, maka jaminan Rahmat Allah mesti selalu terpatri dalam diri. Yaitu dengan memahami setiap kondisi sebagai kilatan makna dalam  bingkai husnu zhan. Seorang itu mungkin menemukan fakta bahwa ia  dan keluarganya tidak akan bisa makan enak selazimnya hari ini, tapi saat ia melihat mata anaknya, lalu berdoa dan makan bersama, timbullah bahagia, atau saat ia berangkat shalat dan bermunajat bertambah pula bahagianya, apalagi bila ia dapat bertemu dengan sahabat yang saling menghargai, maka ketidakbahagiaan kecil tadi tidak mesti merusak kebahagiaan lainnya.

Demikian pula kaitannya dengan kebahagiaan di alam abadi,  yang dijanjikan bagi yang mengimani Allah dan RasulNya Muhammad SAW, maka pandangan ini mestilah memantik rasa bahagia dan optimisnya untuk tetap menjalin hidup dengan tanggung jawab dan kapasitas masing masing. Ia juga mesti yakin bahwa kalimat sahadah yang terpatri di jiwanya akan menjadi kunci bahagia dalam menempuh hidup setelah dunia ini.[]

-Dalam catatan Bahagia setiap Saat.