BANDA ACEH – “Dengan kekayaan sejarah yang dibentuk oleh bangsa yang beragam, Bangsa Aceh bangga mengatakan bahwa meskipun anekdotal, ACEH adalah kepanjangan dari Arab, Cina, Eropa, dan Hindia. Meskipun itu adalah makna kata yang tidak memiliki landasan apapun, karena Aceh disebutkan dengan beragam nama seperti Achin dan Atjeh, tapi tidak ada yang dapat membantah bahwa Bangsa Aceh dan bahasa Melayu yang mereka perkenalkan menjadi bahasa teks dibentuk oleh bangsa-bangsa yang beragam warna dan agama”.
Demikian isi salah satu alenia tulisan Arfiansyah dalam “Aceh 2018: Makin Gelap dan Sempit?”, Catatan Akhir Tahun 2018 “Poros Darussalam”.
Dalam paragraf lain, Arfiansyah yang merupakan dosen Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry menulis, “Hari ini, keturunan masyarakat kosmopolitan yang dulu berjaya dan diagungkan oleh lawannya menjadi begitu rapuh dan sempit. Bangsa yang dulu besar kini bersimpuh, diam, dan murung sendiri di ruang yang gelap, sangat gelap”.
“Keturunan Bangsa yang dulu mengatur alur ekonomi, politik, dan pertahanan Kawasan itu terlihat begitu rapuh dan tak percaya diri saat ini. Gambaran saat ini, kita seperti berada di eropa zaman kegelapan, sementara Islam menerangi belahan dunia lainnya di waktu bersamaan,” tulis Arfiansyah.
Arfiansyah melanjutkan, “Bangsa Aceh telah hilang. Mereka sekarang digiring menuju “etnis Aceh” dengan hymne resmi Berbahasa Aceh oleh mereka yang memiliki pikiran dan kesadaran bangsa yang sangat sempit”.
Magister lulusan McGill Universitas Kanada ini juga menjelaskan dalam artikel itu, “Mereka yang mengatasnamakan Bangsa Aceh mengurung bangsa sendiri dari dunia luar. Mereka memutuskan pertalian darah mereka dengan bangsa Arab, Cina, Eropa dan Hindia. Mereka menutup diri rapat-rapat dan mengatakan Cina dan Eropa bukan bagian dari dirinya, bukan bagian dari darah yang mengalir di tubuhnya”.
“Mereka malu untuk mengakui kemelayuan mereka dan memilih untuk mengurung diri di kamar sunyi. Panggilan-panggilan saudara dekatnya dari daerah rimba Gayo, Singkil, Alas dan Aceh sendiri tidak dihiraukan. Orang-orang itu meruntuhkan dan menghilangkan Bangsa Aceh yang penuh martabat. Bangsa yang dulu jaya di lautan Hindia dan Asia Tenggara dan mengatur kerajaan-kerajaan lain, kini tak bisa lagi mengurusi rumah tangganya sendiri,” tulis mahasiswa doktoral Universitas Leiden Belanda ini.
Calon Doktor Antropologi Hukum ini kemudian mempertegas pandangannya, “Bangsa yang dulu besar kini dipaksa untuk diam di bilik kamar yang sangat kecil. Perjalanan intuitif dan intelektual keturunan Bangsa terpelajar di kawasan itu pun hanya berada di satu garis pantai, sebatas pantai barat selatan dan pantai timur-utara di atas tanah yang sama. Kini, keturunan Bangsa Aceh yang terpelajar diajarkan bagaimana cara berislam dan berilmu oleh orang-orang yang dulunya diajarkan oleh nenek moyang mereka”.
Arfiansyah yang saat ini dipercaya sebagai Program Manager di International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) menutup tulisannya dengan pernyataan, “Bangsa Aceh telah hilang, yang bersisa adalah pecahan-pecahan berupa etnis Aceh, Gayo, Alas, Singkil dan lainnya. Bila tak diatasi, pecahan ini tidak akan jauh berbeda dengan pecahan-pecahan keramik yang disimpan di Museum UIN Ar-Raniry dan lokasi lainnya. Bangsa Aceh pernah ada, tapi ditemukan dalam bentuk pecahan-pecahan yang tak utuh, beberapa bagiannya telah hilang dan tak bisa ditemukan lagi”.[]



