BANDA ACEH – Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, Muhammad Nur, menilai banjir yang terjadi di Aceh salah satu penyebabnya akibat pembalakan liar.

Nur mencontohkan, banjir bandang yang terjadi di Aceh Tenggara. Menurut Nur, banjir di kabupaten itu akibat deforestasi hutan. Laju deforestasi hutan di Aceh Tenggara itu diakibatkan oleh illegal logging, alih fungsi hutan menjadi perkebunan cokelat, penamanan jagung di atas perbukitan dan sebagainya.

“Bencana yang terjadi, itu bagian dari akumulasi perilaku kita juga sebagai pengelola sumber daya alam yang masih buruk. Artinya, bencana itu sesungguhnya kita undang. Bukan secara alami,” kata Nur kepada portalsatu.com/, Sabtu, 15 Desember 2018, malam.

Menurut Nur, Aceh Tenggara sebagai daratan tinggi punya kontur tanah yang basah atau lembab karena setiap hari ada saja hujan kecil. Musim penghujan yang membawa air dalam jumlah banyak mengakibatkan air dari gunung atau perbukitan mulai melebur dan turun, lalu menjadi fenomena “yang kita pahami selama ini sebagai banjir bandang”.

Sebelumnya, delapan kecamatan di Aceh Tenggara terendam banjir akibat meluapnya air dari tanggul yang jebol, Jumat. Setidaknya, satu rumah di Desa Tualang Sembilar, Kecamatan Bambel, roboh, dan satu rumah warga Desa Simpur Jaya, Kecamatan Ketambe, dibawa arus. Selain itu, dua jembatan putus.

“Kecamatan dan desa yang terkena banjir kemungkinan akan bertambah karena jalan menuju akses ke wilayah yang terkena banjir belum bisa dilewati. Ketinggian air 80 centimeter sampai dengan satu meter,” kata Kepala Pelaksana BPBA, Ahmad Dadek.

Sementara itu, warga Desa Lhok Raya, Kecamatan Trumon Tengah, Aceh Selatan, Jumat malam, terpaksa mengungsi ke Kompi Detasemen B Brimob Trumon Tengah. Rumah mereka terendam banjir akibat luapan sungai dari Subulussalam.

Hujan deras menyebabkan aliran Sungai Gelombang di Kecamatan Sultan Daulat, Subulussalam, meluap dan merembes ke Kecamatan Trumon Timur dan Trumon Tengah, Aceh Selatan. Ketinggian air mencapai 60 centimeter. 

Setidaknya, 50 jiwa dari Lhok Raya mengungsi. Sementara ini terdapat 523 jiwa terdampak banjir di satu kecamatan lainnya, tapi mereka tidak mengungsi.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Selatan, Cut Syazalisma, Jumat malam, menyebutkan, empat desa di dua kecamatan yang terdampak. Empat desa itu Seuneubok Pusaka, Titi Poben, Lhok Raya, dan Cot Bayu.

Personel Damkar 06 Pos Trumon dan Tim Reaksi Cepat dari PB BPBD Aceh Selatan diturunkan ke beberapa lokasi banjir untuk melakukan pemantauan, assessment dan pendataan. Proses evakuasi warga ke tempat pengungsian juga dibantu BPBD setempat.

Di Subulussalam dilaporkan satu rumah warga hanyut dibawa arus. Banjir berpusat di tiga desa yakni Jabi-jabi, Sigrun dan Suka maju di Kecamatan Sultan Daulat dan Rundeng, Subulussalam.

Kantong-kantong pengungsian juga bermunculan di daerah lainnya seiring banjir akibat intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir. Banjir juga terjadi di Bireuen, Kamis kemarin.[]