SUBULUSSALAM – Sebagai wujud konsistensi guna mendukung pengembangan dan kemajuan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di wilayah Kota Subulussalam, PT Bank Aceh Syariah Cabang Subulussalam melaksanakan pelatihan pengolahan tepung mocaf guna menggerakkan ekonomi masyarakat.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk workshop pembuatan dan pengolahan mocaf menjadi aneka kue diikuti belasan kaum perempuan berkerja sama dengan Yayasan Rumah Kita di Jalan Teuku Umar, Desa Belegen Mulia, Kecamatan Simpang Kiri, Rabu, 22 September 2021.

Kegiatan tersebut dibuka Kepala Bank Aceh, Syariah Cabang Subulussalam, Ellyn Saputra mengatakan dunia perbankan juga memiliki tanggung jawab sosial untuk menggali potensi-potensi UMKM guna mendorong peningkatan ekonomi masyarakat, salah satunya pembuatan dan pengolahan mocaf.

Ellyn Saputra mengaku terkesan dengan Direktur Yayasan Rumah Kita, Risdianty dinilai sangat kreatif, tidak fokus di bidang peningkatan kesehatan masyarakat, namun juga bergerak di sektor ekonomi melalui pengembangan UMKM pengolahan tepung mocaf.

“Saya baru kali ketemu dokter kreatifnya luar biasa. Biasa dokter itu aktifnya di kesehatan saja. Tapi di sini beliau aktif tentang pengolahan mocaf, konsultasi pernikahan, rumah baca, sekolah alam. Kalau di Aceh, baru kita temukan di Subussalam,” ungkap Ellyn Saputra.

Menurut Ellyn, pilihan kaum ibu bergabung dengan Yayasan Rumah Kita untuk mendapatkan pelatihan serta pembinaan pembuatan dan pengolahan mocaf sangat tepat, karena dibimbing sosok dokter yang sangat kreatif dan visioner.

Karena itu, ia berharap seluruh peserta serius mengikuti pelatihan ini agar nantinya langsung bisa diterapkan di rumah masing-masing terkait pengolahan tepung mocaf hingga menghasilkan aneka kue, untuk menambah pendapatan ekonomi keluarga.

Pelatihan
Bank Aceh Syariah Cabang Subulussalam bekerja sama dengan Yayasan Rumah Kita melaksanakan workshop pembuatan dan pengolahan mocaf, Rabu, 22 September 2021. Foto: sudirmanportalsatu.com/

Direktur Yayasan Rumah Kita, Risdianty mengatakan dalam workshop ini peserta dilatih langsung cara pengolahan mocaf sampai menghasilkan aneka kue. Targetnya, selesai acara, mereka mampu dan bisa membuat pengolahan mocaf, namun quality control tetap di Yayasan Rumah Kita.

Menurut Risdianty kenapa harus beralih dari tepung terigu ke tepung mocaf. Karena mocaf bahan baku dari ubi sangat mudah didapat di Kota Subulussalam. Potensi pengembangan mocaf bisa menghidupkan UMKM menggerakkan ekonomi masyarakat.

Lebih lanjut dokter spesialis penyakit dalam RSUD Kota Subulussalam ini menjelaskan, harga ubi satu kilogram di pajak harian sekitar Rp1.500. Setelah diolah menjadi mocaf meningkat Rp18 ribu per kilogram dan seterusnya ketika dikonversi menjadi kue misalnya nastar bisa mencapai Rp120 per kilogram.

Tepung mocaf yang diproduksi Yayasan Rumah Kita sudah melalui uji BPOM. Bahkan, kata Risdianty, untuk wilayah Sumatera baru Kota Subulussalam yang memproduksikan mocaf, dan ini menjadi kebanggaan tersendiri buat Yayasan Rumah Kita.

“Saya merasa mempunyai kebanggaan tersendiri, namun hilang beberapa saat. Ternyata ketika kita bisa mengolah mocaf, dari ubi yang nilai ekonomisnya antaraRp1.500-Rp2.000 per kilogram, kita mengubahnya menjadi tepung seharga Rp18 ribu per kilogram, tenyata tidak mendapat respon baik dari pemerintah maupun masyarakat,” ungkap Risdianty.

“Masyarakat belum bisa beralih dari terigu ke mocaf, karena sudah bertahun-tahun dengan terigu,” kata Risdianty menambahkan.

Risdianty mengaku sudah beberapa kali mengadakan workshop pengolahan mocaf, puncaknya Festival Kuliner se-Kota Subulussalam, mengundang chef (koki) dari Medan dan Banda Aceh untuk menaklukkan pengolahan mocaf. Tetapi, apresiasi tetap minim dari masyarakat di Bumi Syekh Hamzah Fansuri.

Namun Risdianty tak patah semangat dalam pengembangan pengolahan mocaf di Kota Subulussalam. Ia justru mendapati penghargaan dari luar. Akhirnya, di tahun 2019 Risdianty diajukan masuk nominator Gagjah Mada Award dan memperoleh penghargaan tersebut tahun 2020 diserahkan Hasto Wardoyo.[]