Selasa, Juli 23, 2024

Dinkes Gayo Lues Keluhkan...

BLANGKEJEREN - Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues mengeluhkan proses pencairan keuangan tahun 2024...

H. Jata Ungkap Jadi...

BLANGKEJEREN – H. Jata mengaku dirinya ditunjuk Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menjadi Pj....

Bandar Publishing Luncurkan Buku...

BANDA ACEH - Penerbit Bandar Publishing Banda Aceh meluncurkan sekaligus dua karya Dr....

Rombongan Thailand Selatan Kunjungi...

BANDA ACEH – Delegasi dari berbagai lembaga di Thailand Selatan mengunjungi Kantor Partai...
BerandaNewsBank Syariah Harus...

Bank Syariah Harus Berorientasi Kepada Kesejahteraan Rakyat

BANDA ACEH – Perbankan dan keuangan syariah dianggap sebagai salah satu solusi perekonomian pasca ‘gagalnya’ kapitalisme dan terus menjadi diskusi para ahli dan praktisi. Walaupun tren bank syariah mengalami perkembangan yang menggembirakan, namun praktik yang terjadi di lapangan masih menunjukkan hal- hal yang kurang menggembirakan. Bahkan masih ditemukan persepsi masyarakat yang menganggap praktik bank syariah tidak ada bedanya dengan bank-bank konvensional yang telah lama hadir di tengah- tengah masyarakat.

Hal tersebut mengemuka pada Seminar Ekonomi dan Keuangan Syariah “Paradigma Perbankan Syariah”, yang diselenggarakan oleh lembaga CENTRIEFP dan berlangsung di kampus UIN Ar Raniry, Banda Aceh, Jumat, 19 Agustus 2016.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar- Raniry, Israk Ahmadsyah dalam seminar itu mengemukakan,  yang selama ini terjadi dalam praktik keuangan konvensional adalah distribusi kekayaan yang terbalik, yaitu dari pihak yang tidak memiliki (the have not) ke pihak yang memiliki atau orang kaya (the have).

“Seharusnya bank syariah harus kembali berorientasi kepada kesejahteraan rakyat. Inilah ide awal dari lahirnya bank syariah,” papar kandidat doktor dari Markfield Institute of Higher Education, Inggris tersebut.

Pakar ekonomi Islam lain Dr. Zaki Fuad, menambahkan, selain permasalahan yang masih terjadi dalam institusi perbankan syariah, ia juga menggarisbawahi bahwa peranan dan kesiapan masyarakat juga menjadi faktor yang sangat penting bagi kesuksesan industri keuangan syariah.

“Masih ada masyarakat kita yang tidak jujur saat mengambil pembiayaan dari bank, misalnya dengan tidak menampilkan kondisi yang sebenarnya atau melakukan penipuan data,” ujar Wakil Dekan II, FEBI, UIN Ar Raniry ini.

Hal tersebut juga menjadi catatan penting dari pihak perbankan. Salah seorang pembicara yang mewakili perbankan di Aceh, Haizir Sulaiman, Direktur SDM dan Syariah Bank Aceh juga mengeluhkan tentang perilaku masyarakat di Aceh. “Salah satu faktor lemahnya bank syariah juga karena umat muslim sendiri yang belum memiliki komitmen yang kuat,” katanya.

Sektor Riil Sangat Penting

Sementara itu, kritik terhadap praktik perbankan konvensional dan syariah juga dipaparkan oleh mantan kepala Bank Indonesia perwakilan Aceh, Mahdi Muhammad. Ia menjelaskan seharusnya sektor riil seperti pasar barang harus bisa berperan lebih besar daripada sektor keuangan. Mantan bankir ini juga mengkritisi pola orang- orang yang mempunyai modal lebih suka menyimpan uang dalam bentuk deposito, bukan disalurkan dalam bentuk- bentuk bisnis yang riil dan produktif sehingga dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kualitas perekonomian suatu daerah.

Ia juga memaparkan bagaimana sistem ekonomi dan keuangan syariah yang pernah berjaya di era kegemilangan Islam beberapa abad lampau. Hal yang paling penting adalah adanya kepercayaan antara sesama umat muslim. Karena jika umat muslim sudah saling percaya kata dia, maka suatu saat mereka tidak perlu lagi dengan institusi keuangan seperti perbankan. Sepatutnya masyarakat muslim bisa saling berserikat dan bekerjasama untuk membantu umat muslim lainnya, jika ada di antara mereka yang membutuhkan modal untuk menjalankan usahanya.

“Seharusnya bank lah yang sangat membutuhkan masyarakat, bukan masyarakat yang membutuhkan masyarakat, seperti sekarang ini,” katanya.

Seminar ekonomi dan keuangan syariah ini adalah salah satu program kajian dan diskusi rutin yang diselenggarakan oleh CENTRIEFP (Centre for Training & Research in Islamic Economics, Finance & Public Policy) atau Pusat Pelatihan dan Penelitian Ekonomi dan Keuangan, dan Kebijakan Publik Islam, yang didirikan oleh para akademisi di UIN Ar-Raniry di awal tahun 2016.[](ihn)

Baca juga: